Cinta

Cinta
Demi Wildan

Bebek

Bebek
Jepret-jepret karya WIildan

Minggu, 30 Desember 2012

Kudus, I'm in love (with the food)

Asyiknya punya suami berasal dari daerah. Yah, kanjeng prabu tercinta memang asli Kudus dan keluarganya masih tinggal di Kudus. Dengan demikian, saya jadi punya tradisi mudik (baca:tempat liburan) karena setiap tahun ikut beliau sowan ke Mbah Nonah (nama ibu mertua saya). Saya sih senang-senang saja walaupun ke Kudus paling mudah ditempuh dengan bis antar kota (Nusantara adalah bis pilihan saya). Kenapa bis? Yah karena letak Kudus serba nanggung, mau pakai pesawat atau kereta cepat tetap saja wajib turun di Semarang dan disambung lagi dengan taksi ke Terboyo lalu naik bis ke Kudus. Malah jadi dua kali naik angkutan. Jadi perjalanan bis malam tetap jadi pilihan pertama. Dinikmati saja, kan tinggal tidur di jalan :).




Idan manyun di depan bis Nusantara, ga mau pulang ke rumah
Yang membuat hati saya senang bila traveling (karena saya selalu sebal perjalanan jauh) adalah karena di Kudus itu gudangnya makanan enak. Entah mengapa ya justru di daerah itu lebih banyak makanan enak ketimbang di Jakarta/Bekasi. Coba sebut saja kota lain seperti Semarang, Yogya, Solo, Surabaya, Malang, Cirebon, Bogor. Huaaaah bisa nambah gendut saya kalau lama-lama di sana. Setiap saya berangkat ke Kudus, kanjeng prabu selalu mentertawakan saya karena panjangnya daftar warung yang wajib saya kunjungi. "Memang sempat semuanya tuh?" tanyanya menyindir. Lalu dengan pedenya saya menjawab, pasti sempat hahaha. Kalau soal kulineran, saya jauh lebih jago daripada suami saya yang asli sono, karena dia sebelumnya ngga tahu tempat makan enak di Kudus (thank you mbah Google dan Om Bondan hahaha).

Begitu sampai rumah simbah, taruh barang, mandi langsung naik motor sowan sama Bu Jatmi. Siapa Bu Jatmi? Tidak lain tidak bukan adalah penjual soto Kudus paling enak sedunia, Soto Bu Jatmi, di Jalan Wahid Hasyim, Panjunan. Lapar dan kedinginan tertempa AC bus semalaman langsung hilang kalau makan sotonya. Waduh, ngga ada yang ngalahin sotonya deh (nulis ini sambil ngeces, sluuurrrpp). Ada rasa segar yang tidak bisa ditemukan di genre soto Kudus yang lain. Entah karena faktor kecapnya yang unik, kecap THG, atau memang tangan si Bu Jatmi ini beda dari tangan penjual soto lainnya. Tapi sayang teh manis di tempat si ibu ini kurang cihui manisnya, enak teh di warung padang. 


Waaaaah saya sangat ingin makan ini sekarang. Yang mangkuk kecil itu soto ayam dan yang besar soto kebo

Yang ngga boleh lupa diabsenin opor Sunggingan di jalan Nitisemito. Opor ayam bakar, bukanya hanya pagi dari jam 6 juga kayaknya sudah jualan nih si bapak. Menurut saya opornya sih biasa-biasa saja, ya opor. Tapi yang bikin istimewa itu justru sambel goreng tahunya. Manis, pas sama lidah jawa saya, kalau dicampur sama kuah opornya, waaah laziiisss. Pesannya yang double ya, kalau singel pasti ngga cukup buat perut saya yang ruangannya banyak kayak perut sapi ini hahaha. Anehnya yang langganan tetap di sini justru orang-orang etnis Tionghoa (mau nulis yang lain takut SARA :p). 


Lihat nggak cabe rawit kukusnya...sluuuurrrpppp.
Di daerah, semakin banyak kalender yang tergantung, berarti  warung tersebut semakin terkenal 
Ayam bu Kasmini di Pasar Kliwon juga ga boleh dilewatkan. Tadinya di jalan sebelah barat pasar, tapi sekarang pindah sementara ke depan pasar agak ke barat (benar ngga ya, rada bingung arah lor-ngulon). Ayam kampung bakar segede-gede alaihim yang bumbunya mlekoh meresap karena waktu mengungkep yang cukup panjang. Makannya sama nasi hangat yang bisa ditambahin kuah opor atau (lagi-lagi) sambal goreng tahu. Yang paling istimewa, Bu Kasmini ngga pelit sama sambalnya yang enak itu karena ditaruh begitu saja di toples tanpa dijatah. Wah kemaruk dong saya, kalau ngga malu dibawa pulang pakai plastik hahaha.
Penampakan ayam bu kasmini. Yang gelap itu dari BB saya (haah merindukan si Canon merah yang ditilep maling). Yang jelas itu boleh pinjam dari sini
Lentog yang juga hanya bisa ditemukan di Kudus wajib jadi sasaran wiskul. Lentog ini semacam ketupat sayur tapi dengan rasa yang lebih ringan, ngga enek dan berat kayak ketupat sayur padang. Sayurnya pakai sayur nangka bersantan dan tahu. Porsinya imut-imut jadi buat makrofag seperti saya pasti nambah lagi hehehe. Untung harganya murah pisan, cuma Rp 2500-3000 per porsi. Lentog itu istilah buat lontongnya yang segede paha anak kecil 5 tahunan deh, lembut rasanya. Nah entah kenapa genre makanan berlontong di Kudus ini menurut saya lontongnya berbeda, lebih pulen dan empuk. Lah Wildan saja yang ngga doyan lontong bisa makan kok. Yang enak ada di daerah Tanjung, lentog pak Ndek buat lidah saya cukup enak.
Lentog yang porsinya kecil. Tuh kan tuh kan...wajar kan kalau saya nambah :p
Sate kebo, paling saya rekomendasikan yang buatannya pak Min Jastro di ruko Jl Agus Salim (depan poolnya Nusantara). Cari di dalam komplek rukonya ya, ngga bakalan kelihatan dari jalan. Hati-hati kecele, soalnya sebentar saja nih sate sudah habis. Waktu liburan long-weekend natal kemarin, kita datang kepagian jam 7, setelah muter-muter sebentar balik jam 7.30 belum siap juga. Ya sudah akhirnya kita putuskan berenang dulu, balik jam 10.30 hiyaaaah sudah habis. Si bapak memang ngga pernah nambah porsi jualannya. Khas orang Kudus, ngga ngoyo nyari rizki. Top dah, salut dengan prinsipnya.


Pak Min yang ngangenin. Yang belum pernah coba sate kebo pasti penasaran 
Terus kalau cuma sekadar mau ngemil saja, bisa ke Peternakan sapi Muria di Jalan Pemuda. Lucu, peternakan sapi perah di tengah kota, dengan bau yang minimal. Produk susunya dijual langsung di situ, bisa minum di tempat. Ada yang hangat dan dingin, disertai snack dan puding yang dibuat dari susu yang sama. Sip banget, favorit Kanjeng prabu dan saya adalah susu kopi. Buat cemilan lain, roti semir keju dan roti vla susu dari toko Mutiara juga sering jadi klangenan. Roti susunya mengingatkan saya pada roti susu Tan Ek Tjoan pada masa kejayaannya dulu. Ngemil sore yang enak di daerah Werdu Wetan, di area GOR-nya atau di belakang Taman Krida. Itu banyak yang jual jagung dan bakwan bakar. Nah loh apalagi tuh bakwan bakar? Sebenarnya sama aja bakwan jagung biasa tapi ditusuk sate lalu dibakar, dipotong-potong dan dikasih bumbu pedas diatasnya. Muraaaaah sepotong cuma seribu sudah dengan kerupuk puli.
Bakwan bakar super pedas dan penjualnya

Pemerahan susu Muria dengan Idan yang hepi melihat sapi diperah dan diberi makan.
Lebaran 2012 ketemuan sama Ully dan Little K di sini.
Eh nyaris kelupaan. Pindang kudus yang mirip-mirip rawon itu. Bisa beli di pak Ramidjan atau siapa sajalah yang jualan di Taman Bojana. Taman Bojana itu ngga ada taman-tamannya sama sekali, cuma pertokoan penuh dengan orang berjualan soto dan pindang. Letaknya sebelah masjid Agung di simpang tujuh. Hihihi cuma enak dan enak buat saya. Sekali lagi, porsinya kecil dan selalu ada dua pilihan, ayam dan kebo.


Penampakan pindang ayam dan si Ayah yang minta nambah serta putranya yang ngambek.
Yang bawah itu foto suhu saya sama yang punya warung, Bu Mar.

Banyak orang yang mencari garang asem Sari Rasa kalau ke Kudus. Hhmm buat saya sih just so so ya. Segar sih memang tapi kurang pedas buat lidah saya, jadi kurang garang rasanya hahaah. Mungkin saya mau kesana lagi tapi ngga sengotot seperti absen wajib ke Bu Jatmi.


Penampakan garang asem yang ngga garang walaupun potongan cabenya banyak api buat saya masih kurang banyak.
Dasar anomali lidah
Saya malah lebih mencari-cari si sego tahu yang rasa-rasanya mirip seperti tahu gimbal tapi dengan kuah yang lebih ringan. Segar dimakan sore dan malam. Sejauh ini sih saya belum ada rekomendasi makan sego tahu yang enak di mana, biasanya sih asal menclok aja di depan penjara atau Pasar Kliwon.
Lesehan sego tahu di depan penjara. Saking banyak peminatnya, yang beli sampai tepar hahaha
Kalau soal wisata selain kuliner, saya belum terlalu banyak eksplorasi. Soalnya waktu saya ke Kudus sempit. Biasanya saya pulang dulu dengan pesawat. Wildan dan Kanjeng Prabu menyusul. Tapi biasanya agenda rutin kami wajib mesti ke GOR Wergu karena di alun-alunnya ada wisata murah meriah. Naik mobil elektrik seharga Rp 5000 (dulu masih 3000 tahun 2008) selama 15 menit. Dan puaslah Idan di sana muter-muter berganti-ganti kendaraan sementara saya dan si Ayah makan bakwan, lentog atau jagung. Ke menara Kudus juga jadi agenda foto-foto narsis saya dan Wildan. Sayang banyak pengemisnya deh.  Berenang juga wajib dilakukan berhubung dekat rumah simbah sekarang ada Mountain View Waterpark yang lokasinya dekat dengan Universitas Muria Kudus. Lumayan murah dan karena masih baru masih bersih dan tertata. Sampai bolak balik setiap hari Wildan ngga bosan-bosan, kayak di Bekasi ngga pernah ke kolam renang saja :). Sebenarnya ada juga Muria Park, tapi lokasinya jauh ke arah gunung Muria. Jadi opsi yang dekat saja yang diambil. Museum Kretek sudah pernah didatangai Wildan juga, tapi saya sudah pulang lebih dulu, jadi tidak ikut. Omah Mode juga belum pernah kami datangi. Oh ya jangan lupa beli kaos khas Kudus di samping toko oleh-oleh Sinar Tiga-tiga ya, lucu-lucu deh.
Anyway, we always have fun at Kudus
Pokoknya menurut saya, Kudus termasuk kota yang menyenangkan. Cukuplah buat isi baterei energi baru dan jadi semangat praktek lagi. Yuuk ke Kudus, makan-makan lagi dan jalan-jalan lagi. Semoga selalu diberikan rizki dan kesehatan supaya bisa kembali ke sana. Semoga simbah Nonah juga dipanjangkan umurnya supaya Wildan masih selalu bisa mudik dan liburan ke Kudus. Aamiin YRA.

1 komentar:

  1. klo nyari tahu gimbal, coba ke rutan jalan sunan muria. langganan saya tahu gimbal "Soleh" yg deket lampu merah.

    BalasHapus