Cinta

Cinta
Demi Wildan

Bebek

Bebek
Jepret-jepret karya WIildan

Sabtu, 29 September 2012

Setelah setahun berlalu

Sudah lama ga nge-blog ... terlalu ya. Bahkan sampai nyaris lupa password-nya (*tepokjidat*)
Mencoba berjanji pada diri sendiri deh, bakal rajin curhat lagi di sini. Walau isinya cuma hal-hal ga penting.

Sudah setahun lewat dari terakhir cerita di sini ya? Let's see, setahun ini sudah apa saja yang terlewati.
  1. Pindah-pindah kerjaan
   Yuup....hitung coba berapa kali jadi kutu loncat buat mencari yang lebih baik (dalam persepsiku loh ya). Dari Cibitung, Bekasi pindah ke daerah Koja Tanjung Priok. Persamaannya cuma satu, sama-sama panas, muaaacet dan penuh kontainer raksasa. Ga betah lama-lama di sana, cukuplah 8 bulan saja menjadi dokter plat merah. Bukan soal gaji, tapi lebih pada suasana kerja. Dasar saklek, ternyata memang saya orang yang sangat "by the book" dan punya bakat Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Sehingga bila semua tidak bisa dilakukan sesuai yang seharusnya, maka saya jadi sangat depresif. Huaaah, siapa mau jadi gila? Jadi daripada sinting, maka keluarlah saya. Selamat tinggal perawat-perawat sok pintar, selamat tinggal sejawat-sejawat "terhormat" , selamat tinggal mesin absen pengatur hidup, selamat tinggal jalanan macet. Tidak akan saya merindukan hal-hal itu, tapi yang jelas saya akan merindukan pasien-pasien kecil saya. Durrotun yang berhasil bangun dari tidur panjangnya akibat meningitis Tb, Ilham dengan Sindrom nefrotik-nya yang berulang, Alvin dengan laringomalasia-nya, Najwa dengan cyclic vomitting disease-nya, Tiara dengan gizi buruk dan PJB-nya, Sofia dengan HIV-nya. Sedih bila saya mengingat mereka kembali, akankah ada yang bawel mengingatkan ibu masing-masing, membuatkan surat cinta pengingat minum obat dan kontrol, seperti yang saya lakukan sebelumnya? Ternyata tidak sia-sia tempaan studi kasus longitudinal selama saya residensi dulu. Semoga mereka semua lekas sembuh dari sakitnya.
 Sama pasien ROP
(huahuhuhu kasiannya kamu,nak)

Tapi semuanya terbayar dengan apa yang saya dapat sekarang. Menemani Idan sampai berangkat sekolah, menyiapkan bekal dan sarapannya, menciumnya saat berangkat sekolah. Hal-hal kecil yang saya tidak pernah lakukan sebelumnya. Tidak ada lagi bangun tergopoh-gopoh jam 4 pagi dan berangkat jam 5.30 karena mengejar busway  transjakarta yang kosong atau pulang dengan seluruh energi terkuras. Cukup sudah 5 tahun saya melakukan itu. Tidak mau lagi!
Dan terdamparlah saya di sebuah RSIA kecil dengan fasilitas tidak jauh berbeda dari klinik rawat inap. Yang kondisinya kadang membuat saya frustasi kembali karena tidak banyak yang bisa saya lakukan di sini. Serasa di pelosok suatu daerah! Tapi RS ini bisa saya tempuh 5 menit dari rumah, sehingga waktu dan energi saya tidak tersita. Walau dengan konsekuensi degradasi IQ :D. Biarlah, prioritas saya bukan jadi yang paling pintar atau terkenal, kok. Apakah rizki berkurang? Satu pintu tertutup, beberapa pintu terbuka buat saya, sehingga saat ini saya berpraktek di 3 RS seputar Pondok Gede saja yang saya bisa akses dalam 30 menit. Alhamdulillah...and which favor of Alloh SWT you denied?



Di tempat praktek

2. Punya rumah sendiri

Yaaay, akhirnya saya berhasil memenuhi janji untuk punya rumah sendiri di usia 35 tahun. Terlambat ya? Hahaha lebih baik telat daripada tidak pernah. Setelah menikah 8 tahun, berpindah-pindah rumah kontrakan, 4,5 tahun di rumah petak sewa bulanan, kami punya rumah. Alhamdulillah. Kebayang ga, menyelesaikan studi spesialisasi anak dari sebuah rumah petakan? Bertumpuk-tumpuk buku punya saya, punya si ayah dan juga punya Idan. Sumpek sangat! Tapi kami betah-betahkan karena saat itu, rumah itu adalah yang terbaik yang kami miliki. Dan saya bisa kok lulus memuaskan. Bertahun-tahun kami bermimpi, kapan punya rumah sendiri ya? Dengan halaman yang cukup memberikan jarak dengan tetangga, sehingga kami tidak mendengar mereka bertengkar atau membincangkan orang lain. Maklum saja, penghuni lingkungan rumah petak kami kebanyakan dari golongan bawah. Andai mereka tahu, ada seorang (calon) dokter anak tinggal di lingkungan rumah petak mereka :D.



Nih, rumah petak kami dan penghuninya yang paling ganteng

Sampai akhirnya tabungan kami cukup untuk membeli rumah. Rumah beneran loh. Dua lantai dengan halaman yang luas untuk Idan lari-lari. Walaupun kami beli dengan cara mencicil dengan fasilitas KPR dan uang mukanya menghabiskan seluruh tabungan kami sehabis-habisnya. Idan punya kamar sendiri yang nyaman akhirnya, bisa menaruh semua mainan dan buku-bukunya. Bisa meluruskan kakinya saat nonton tv, bisa main sepeda depan rumah. Ayah punya ruang belajar sendiri dan punya rak buku yang besar. Saya punya dapur yang cukup lega untuk memasak. Dan akhirnya tempat tidur King Size yang kami beli di awal menikah dulu tidak lagi dititipkan di rumah Bapak karena sekarang bisa masuk kamar kami yang lega. Yaaay....

Wujud asli rumah baru kami

Sayangnya, awal kepindahan kami disambut oleh insiden "kecil". Baru seminggu pindah, disatroni maling. Tas batik saya yang harganya lumayan itu diangkut beserta isinya (kamera digital, tablet, dompet, uang, hp) dan komputer si ayah juga dibawa. Padahal seluruh tesis si ayah ada disitu dan belum di-backup. Saya sumpahin itu maling miskin 7 turunan, kejebur got bau, dan abses di perianal (byuuhbyuuh). Kata ayah, yaah mungkin zakat kami masih kurang (love you, ayah, for always be positive). Tapi traumanya membekas sekali, sehingga berubahlah rumah minimalis kami menjadi "kedubes Amerika" hahaha

Saingan kedubes Amrik

Jadiii...ya itu setahun ini kejadian yang buat saya penting maknanya. Eh satu lagi ding, Idan disunat. Tapi itu nanti lain cerita yaa.
Mejeng pre-op


Saya buat catatannya di blog supaya bisa saya kenang lagi suatu saat. Pleaseee, blogspot jangan bernasib sama kayak multiply yaa. Besok saya isi lagi deh dengan curhat ga penting saya, insya Allah. Pokoknya kemarin, sekarang, besok dan selalu serta masih akan bersyukur. Karena hidup selalu naik turun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar