Hiks...minggu ini benar-benar membuat depresi. Dimulai dengan begadang di NICU, gagal intubasi dan bayinya ga ketolong. Dilanjut dengan sakit flu yang lumayan memaksa tidur saja di ranjang. Lalu miskomunikasi yang parah dengan perawat sampai akhirnya meledakan emosi seseorang. Benar-benar menghancurkan kredibilitas.
Baru merasa sekarang , gue ini bukan orang pintar ternyata. Semu! Otak sudah tumpul karena lama ga belajar. Merasa paling pintar, tapi ternyata bodoh. Hikshikshiks...
Mesti belajar lagi rupanya? Ah tapi otak gue sudah terlalu datar giri dan sulci-nya. Apa gue masih sanggup menelaah jurnal-jurnal ilmiah dan isinya itu? Lagipula, sekarang saatnya Idan dan masa emas otaknya. Lebih baik saya fokus ke dia daripada mementingkan diri sendiri.
Sudahlah... Gue lelah mesti berjaga sampai dini hari. Gue ga sanggup dibangunkan telpon bernada emergensi. Ga sanggup debar jantung ini mengatasi aliran adrenalin yang kencang. Ah, sudah lewat masanya.
Gue cuma pengen hidup tenang. Jam kerja teratur, menikmati senja dengan secangkir teh bersama mas Ali dan Idan. Gue ga cari nama dan ketenaran kok. Cukuplah gue menjadi diri sendiri, mensyukuri apa yang ada yang menjadi bagian rizki gue.
Ah, andai gue bisa bilang : TERIMA KASIH, DOK. SAYA SELESAIKAN DI SINI SAJA....
Cinta
Demi Wildan
Bebek
Jepret-jepret karya WIildan
Minggu, 07 Oktober 2012
Minggu, 30 September 2012
Mommies ROCK, Mommies RULE the world
Sejak mengasuh grup masalah kesehatan anak sehari-hari dari 2 tahun yang lalu, ada beberapa manfaat yang bisa saya ambil. Paling menyenangkan adalah berkenalan dengan beberapa ibu-ibu super. Sungguh saya kagum dibuatnya melihat sepak terjangnya. Terkadang malah minder jadinya, merasa jadi ibu yang payah dibanding mereka. Segala keluhan yang saya lontarkan terkait betapa capeknya saya menjadi nakhoda rumah tangga saya seakan-akan tidak ada artinya dibanding para ibu hebat tadi.
Mau kenalan ga sama mereka? Siapa tahu kisah hidupnya menginspirasi kita dan membuat kita menjadi lebih baik dalam segala hal. Beberapa di antara mereka memiliki anak "spesial", berkebutuhan khusus. Tentu tidak mudah bagi mereka dan keluarga lainnya mengatasinya. Coba bayangkan, memiliki anak yang memiliki kondisi medis khusus, berapa stok kesabaran yang harus tersedia? Belum lagi berapa jumlah biaya yang mesti dikeluarkan. Tapi kayaknya dari obrolan-obrolan kami, para supermoms ini kelihatan santai, menerima keadaan, ikhlas, bahkan masih bisa berbagi dengan orang lain.
(Lah aku? Idan nilainya turun aja udah panik setengah mati, stres sendiri sampai migren, mikir yang nggak-nggak kenapa sampai Idan jeblok nilainya. Idan berulah sedikit aja, aku langsung teriak-teriak ga sabar dan marah. Idan sakit panas sedikit saja, langsung lebay kasih antibiotik canggih (padahal ke pasien paling selektif kasih antibiotik).Dasar aku emak lebay bin jablay alay! Ga bisa deh dibandingkan stok ikhlas dan sabarku dengan emak super tersebut).
![]() |
| Haloo...iya bener, saya yang pesan asinan 1 lusin tadi.... |
Seperti contohnya, mbak Risris Kartaatmadja aka Ibu Embun. Dua dari tiga buah hatinya memiliki kondisi neurologis cukup rumit. Tapi kayaknya mbak Risris tetap senyum, bercanda, masih menulis ini itu, masih sempat berbagi ilmu dengan orang lain. Mengedukasi masyarakat di sana sini, mengorganisir seminar, bicara di banyak tempat. Masih rajin buat kue sendiri buat keluarga (jadi mikir, gimana bagi waktunya sih?).
![]() |
| Saya ngga nyanyi ini...sumpah |
Lalu ada mbak Primaningrum aka Ibu si kembar tiga. Akibat lahir prematur, bayinya yang terkecil ga survive dan yang nomor dua mengalami ROP dan akhirnya tuna netra. Buatku, mbak Prima ini ga pernah patah arang membimbing Balqiz yang memiliki kendala. Hebatnya lagi, membuat yayasan pendukung orangtua yang memiliki keadaan yang sama , plus satu lagi, jadi selebritis hahaha (jadi ingat donat J-co nih).
![]() |
| Duuh, kenapa sih difoto? Eike kan pemalu... |
Terus ada mak Ros (maknyaak aku ga nemu fotonya dirimu..) (akhirnya nemu foto dirimu hahaha ) yang putra terkecilnya punya masalah segudang sejak lahir, namun tampak sangat tabah mengatasi semua hal yang timbul. Masih sering bercanda pula. Padahal si kecilnya sempat menjalani sekian rangkaian operasi besar (hatinya sebesar apa ya?).
| Dessy itu yang senyum ya hahaha.... |
Ada pula mbak Dessy Mardiana yang anak ketiganya survive dari ensefalitis dan ITP. Dari pengalamannya, beliau aktif di sebuah komunitas pendukung dan berbagi dukungan. Masih pula buka usaha katering rumahan dan jadi kutu loncat Jakarta-Jogja-Bali (apa punya sayap ya?).
Coba kalau aku? Lah Idan kuning hiperbilirubinemia dirawat karena light therapy intensif aja aku nangis bombay pakai pegangan tiang. Benar-benar aku ini ibu TERLALUU...
Itu yang saya lihat dari luar sih, ga pernah tahu juga isi hatinya. Maksudnya, dari cerita mereka, saya bisa ambil kesimpulan, kalau pun kita sedih atas sebab apapun, bagaimanapun juga hidup harus berlanjut. LIFE GOES ON AND EVERY SECOND COUNTS. Buat apa menyesali keadaan, tidak akan berubah kecuali kita mengubahnya menjadi lebih baik. Berbuat sesuatu lebih baik daripada duduk diam dan tidak melakukan apa-apa. Lalu buat apa membombardir (bener ga sih tulisannya?) orang lain dengan kesulitan kita dengan menampakkan wajah sedih setiap waktu? Benar kan?
Hhhmm siapa lagi ya?
![]() |
| Eri yang nyengir karena jualannya laris |
![]() |
| Ini gambar bu Ani? Kok kayak kue? |
Ibu yang satu ini juga ga kalah hebat, bu Ani Berthy. Bunda ini anaknya 8... (iyaa, benar 8 hehehe), tapi super hebat. Masih bisa buka usaha baking. Padahal si kecilnya punya Down Syndrome dan pernah menjalani operasi jantung besar. Malu saya sama ibu-ibu ini. Laaah anak satu aja kerepotan ngurusnya, kayak ga niat punya anak huhuhu payaah.
![]() |
| Bukan ternyata..yang ini bu Ani-nya |
Belum lagi ada maknyak Lia Kariani, pegawai plat merah ini juga termasuk sibuk (ngitungin duit tiap hari). Hebatnya masih bisa buka usaha sambilan buat praline. Terus bu dosen Lenggogeni, walaupun sibuk masih bisa nge-game tiap hari..eh salah masih sempat buat cemilan sehat buat anak-anak tercinta. Laaah, saya? Rencana mau buka usaha sampingan aja dari dulu mentok terus di niat. Niat mo buat kue untuk Idan tiap hari aja cuma sebatas angan-angan hiks.
![]() |
| Apakah ini arca Roro Jonggrang yang hilang? Bukaaaan....ini juragan coklat |
![]() |
| Nah jangan main-main sama bu dosen ini Bisa-bisa ngga dilulusin sekolah ;) |
![]() |
| Oooy |
![]() |
| Beda generasinya sangat terlihatkah? |
Dari angkatan di bawah saya (huaah ketauan umurnya deh), ada Putri Little Holiday (still thinking funny about the name hahaha) dan Ully Narulita Insani yang semangat keibuannya melebihi saya yang sudah lebih senior (hiks). Waktu saya seumuran mereka berdua dan punya anak kecil, saya tidak sehebat mereka, yang bersedia menjadi fulltime mom agar bisa mengawasi si mungil tumbuh. Memberikan makanan homemade, berkomitmen memberikan asi eksklusif, mencari tahu semua ilmu tentang tumbuh kembang anak. Laah gue? Boro-boro makanan homemade, lah gue aja jarang makan diperbudak sistem sekolah (gubraaak). Terus ASI eksklusif? Wah jangan nanya saya deh, saya mah ngomong doang (tutupmuka pakai bantal)
Masih banyak lagi sih para supermom, tapi ga mungkin juga diceritakan satu-satu di sini (alasaaaan, beib, padahal udah ngantuk). Tapi walaupun saya tidak sehebat mereka, ada satu persamaan saya. Saya sangat mencintai anak dan keluarga saya (serius nih ya ayah dan idan,,,serius nih ibu) seperti halnya para supermom mencintai keluarga masing-masing.
Terima kasih ya sudah menginspirasi saya untuk menjadi orang dan ibu yang lebih baik. Sangat tidak menyesal mengenal kalian semua.
Sabtu, 29 September 2012
Kalau kau bobo
Narsis sedikit ya? Saya ini pecandu wajah anak saya. Buat saya, ga ada anak lain seganteng dan selucu Idan. Mungkin memang dia keling meling meling, kurus ga semok kayak anak lain, tapi wajahnya ganteng ala Jawa (halaaaah opo meneh kuwi). Hidungnya lumayan bangir kayak ayahnya (*and the rest of the Supeno clan*), gak ngikut hidung ibu yang ala Benyamin Sueb, mekar bagai bolu kukus bebas kutukan (nyengiiiir). Pokoknya tampang Idan ini besok gede bakalan cowok banget deh (anti Korean look). Apalagi kalau dilihatnya pas lagi bobo (iyaa soalnya ga pakai pecicilan). Soooo peaceful, almost angelic like.
Semua orangtua pasti paling senang saat melihat wajah anaknya waktu bobo. Damai, tenang, ga ada beban. Seakan-akan dalam mimpinya cuma ada dunia permen dan es krim warna warni. Obat capek paling mujarab, ya kan?
Saya juga begitu. Jam kerja saya yang sampai malam seringkali membuat saya sedih karena tidak bisa mengantarkan Idan bobo. Jadi acapkali saya pulang ke rumah yang hanya menyala lampu redupnya dan menemukan Idan dengan wajah malaikatnya tertidur pulas. Sangat sering, bobo berdua sama ayahnya (nah kalau mukanya si ayah sih ga kayak malaikat, kalaupun iya kayak malaikat udah pensiun ribuan tahun silam, yang ada gondok karena bete ga ditungguin pulang kerja huahuhuhu).
Kalau begini, sering iseng mengabadikan pose-pose si ganteng Idan bobo. Buat kenang-kenangan kalau suatu saat mukanya berubah ga kayak malaikat lagi hahaha...
Semua orangtua pasti paling senang saat melihat wajah anaknya waktu bobo. Damai, tenang, ga ada beban. Seakan-akan dalam mimpinya cuma ada dunia permen dan es krim warna warni. Obat capek paling mujarab, ya kan?
Saya juga begitu. Jam kerja saya yang sampai malam seringkali membuat saya sedih karena tidak bisa mengantarkan Idan bobo. Jadi acapkali saya pulang ke rumah yang hanya menyala lampu redupnya dan menemukan Idan dengan wajah malaikatnya tertidur pulas. Sangat sering, bobo berdua sama ayahnya (nah kalau mukanya si ayah sih ga kayak malaikat, kalaupun iya kayak malaikat udah pensiun ribuan tahun silam, yang ada gondok karena bete ga ditungguin pulang kerja huahuhuhu).
Kalau begini, sering iseng mengabadikan pose-pose si ganteng Idan bobo. Buat kenang-kenangan kalau suatu saat mukanya berubah ga kayak malaikat lagi hahaha...
![]() |
| Wajah yang memabukkan |
![]() |
| Mimpi apa ya? |
![]() |
| Gaya mengusel-usel |
![]() |
| Pengen begini terus selamanya |
![]() |
| Sleep tight, we'll take care of you |
Setelah setahun berlalu
Sudah lama ga nge-blog ... terlalu ya. Bahkan sampai nyaris lupa password-nya (*tepokjidat*)
Mencoba berjanji pada diri sendiri deh, bakal rajin curhat lagi di sini. Walau isinya cuma hal-hal ga penting.
Sudah setahun lewat dari terakhir cerita di sini ya? Let's see, setahun ini sudah apa saja yang terlewati.
Tapi semuanya terbayar dengan apa yang saya dapat sekarang. Menemani Idan sampai berangkat sekolah, menyiapkan bekal dan sarapannya, menciumnya saat berangkat sekolah. Hal-hal kecil yang saya tidak pernah lakukan sebelumnya. Tidak ada lagi bangun tergopoh-gopoh jam 4 pagi dan berangkat jam 5.30 karena mengejarbusway transjakarta yang kosong atau pulang dengan seluruh energi terkuras. Cukup sudah 5 tahun saya melakukan itu. Tidak mau lagi!
Dan terdamparlah saya di sebuah RSIA kecil dengan fasilitas tidak jauh berbeda dari klinik rawat inap. Yang kondisinya kadang membuat saya frustasi kembali karena tidak banyak yang bisa saya lakukan di sini. Serasa di pelosok suatu daerah! Tapi RS ini bisa saya tempuh 5 menit dari rumah, sehingga waktu dan energi saya tidak tersita. Walau dengan konsekuensi degradasi IQ :D. Biarlah, prioritas saya bukan jadi yang paling pintar atau terkenal, kok. Apakah rizki berkurang? Satu pintu tertutup, beberapa pintu terbuka buat saya, sehingga saat ini saya berpraktek di 3 RS seputar Pondok Gede saja yang saya bisa akses dalam 30 menit. Alhamdulillah...and which favor of Alloh SWT you denied?
2. Punya rumah sendiri
Yaaay, akhirnya saya berhasil memenuhi janji untuk punya rumah sendiri di usia 35 tahun. Terlambat ya? Hahaha lebih baik telat daripada tidak pernah. Setelah menikah 8 tahun, berpindah-pindah rumah kontrakan, 4,5 tahun di rumah petak sewa bulanan, kami punya rumah. Alhamdulillah. Kebayang ga, menyelesaikan studi spesialisasi anak dari sebuah rumah petakan? Bertumpuk-tumpuk buku punya saya, punya si ayah dan juga punya Idan. Sumpek sangat! Tapi kami betah-betahkan karena saat itu, rumah itu adalah yang terbaik yang kami miliki. Dan saya bisa kok lulus memuaskan. Bertahun-tahun kami bermimpi, kapan punya rumah sendiri ya? Dengan halaman yang cukup memberikan jarak dengan tetangga, sehingga kami tidak mendengar mereka bertengkar atau membincangkan orang lain. Maklum saja, penghuni lingkungan rumah petak kami kebanyakan dari golongan bawah. Andai mereka tahu, ada seorang (calon) dokter anak tinggal di lingkungan rumah petak mereka :D.
Sampai akhirnya tabungan kami cukup untuk membeli rumah. Rumah beneran loh. Dua lantai dengan halaman yang luas untuk Idan lari-lari. Walaupun kami beli dengan cara mencicil dengan fasilitas KPR dan uang mukanya menghabiskan seluruh tabungan kami sehabis-habisnya. Idan punya kamar sendiri yang nyaman akhirnya, bisa menaruh semua mainan dan buku-bukunya. Bisa meluruskan kakinya saat nonton tv, bisa main sepeda depan rumah. Ayah punya ruang belajar sendiri dan punya rak buku yang besar. Saya punya dapur yang cukup lega untuk memasak. Dan akhirnya tempat tidur King Size yang kami beli di awal menikah dulu tidak lagi dititipkan di rumah Bapak karena sekarang bisa masuk kamar kami yang lega. Yaaay....
Sayangnya, awal kepindahan kami disambut oleh insiden "kecil". Baru seminggu pindah, disatroni maling. Tas batik saya yang harganya lumayan itu diangkut beserta isinya (kamera digital, tablet, dompet, uang, hp) dan komputer si ayah juga dibawa. Padahal seluruh tesis si ayah ada disitu dan belum di-backup. Saya sumpahin itu maling miskin 7 turunan, kejebur got bau, dan abses di perianal (byuuhbyuuh). Kata ayah, yaah mungkin zakat kami masih kurang (love you, ayah, for always be positive). Tapi traumanya membekas sekali, sehingga berubahlah rumah minimalis kami menjadi "kedubes Amerika" hahaha
Jadiii...ya itu setahun ini kejadian yang buat saya penting maknanya. Eh satu lagi ding, Idan disunat. Tapi itu nanti lain cerita yaa.
Saya buat catatannya di blog supaya bisa saya kenang lagi suatu saat. Pleaseee, blogspot jangan bernasib sama kayak multiply yaa. Besok saya isi lagi deh dengan curhat ga penting saya, insya Allah. Pokoknya kemarin, sekarang, besok dan selalu serta masih akan bersyukur. Karena hidup selalu naik turun.
Mencoba berjanji pada diri sendiri deh, bakal rajin curhat lagi di sini. Walau isinya cuma hal-hal ga penting.
Sudah setahun lewat dari terakhir cerita di sini ya? Let's see, setahun ini sudah apa saja yang terlewati.
- Pindah-pindah kerjaan
Sama pasien ROP
(huahuhuhu kasiannya kamu,nak)
Tapi semuanya terbayar dengan apa yang saya dapat sekarang. Menemani Idan sampai berangkat sekolah, menyiapkan bekal dan sarapannya, menciumnya saat berangkat sekolah. Hal-hal kecil yang saya tidak pernah lakukan sebelumnya. Tidak ada lagi bangun tergopoh-gopoh jam 4 pagi dan berangkat jam 5.30 karena mengejar
Dan terdamparlah saya di sebuah RSIA kecil dengan fasilitas tidak jauh berbeda dari klinik rawat inap. Yang kondisinya kadang membuat saya frustasi kembali karena tidak banyak yang bisa saya lakukan di sini. Serasa di pelosok suatu daerah! Tapi RS ini bisa saya tempuh 5 menit dari rumah, sehingga waktu dan energi saya tidak tersita. Walau dengan konsekuensi degradasi IQ :D. Biarlah, prioritas saya bukan jadi yang paling pintar atau terkenal, kok. Apakah rizki berkurang? Satu pintu tertutup, beberapa pintu terbuka buat saya, sehingga saat ini saya berpraktek di 3 RS seputar Pondok Gede saja yang saya bisa akses dalam 30 menit. Alhamdulillah...and which favor of Alloh SWT you denied?
Di tempat praktek
2. Punya rumah sendiri
Yaaay, akhirnya saya berhasil memenuhi janji untuk punya rumah sendiri di usia 35 tahun. Terlambat ya? Hahaha lebih baik telat daripada tidak pernah. Setelah menikah 8 tahun, berpindah-pindah rumah kontrakan, 4,5 tahun di rumah petak sewa bulanan, kami punya rumah. Alhamdulillah. Kebayang ga, menyelesaikan studi spesialisasi anak dari sebuah rumah petakan? Bertumpuk-tumpuk buku punya saya, punya si ayah dan juga punya Idan. Sumpek sangat! Tapi kami betah-betahkan karena saat itu, rumah itu adalah yang terbaik yang kami miliki. Dan saya bisa kok lulus memuaskan. Bertahun-tahun kami bermimpi, kapan punya rumah sendiri ya? Dengan halaman yang cukup memberikan jarak dengan tetangga, sehingga kami tidak mendengar mereka bertengkar atau membincangkan orang lain. Maklum saja, penghuni lingkungan rumah petak kami kebanyakan dari golongan bawah. Andai mereka tahu, ada seorang (calon) dokter anak tinggal di lingkungan rumah petak mereka :D.
Nih, rumah petak kami dan penghuninya yang paling ganteng
Sampai akhirnya tabungan kami cukup untuk membeli rumah. Rumah beneran loh. Dua lantai dengan halaman yang luas untuk Idan lari-lari. Walaupun kami beli dengan cara mencicil dengan fasilitas KPR dan uang mukanya menghabiskan seluruh tabungan kami sehabis-habisnya. Idan punya kamar sendiri yang nyaman akhirnya, bisa menaruh semua mainan dan buku-bukunya. Bisa meluruskan kakinya saat nonton tv, bisa main sepeda depan rumah. Ayah punya ruang belajar sendiri dan punya rak buku yang besar. Saya punya dapur yang cukup lega untuk memasak. Dan akhirnya tempat tidur King Size yang kami beli di awal menikah dulu tidak lagi dititipkan di rumah Bapak karena sekarang bisa masuk kamar kami yang lega. Yaaay....
Wujud asli rumah baru kami
Sayangnya, awal kepindahan kami disambut oleh insiden "kecil". Baru seminggu pindah, disatroni maling. Tas batik saya yang harganya lumayan itu diangkut beserta isinya (kamera digital, tablet, dompet, uang, hp) dan komputer si ayah juga dibawa. Padahal seluruh tesis si ayah ada disitu dan belum di-backup. Saya sumpahin itu maling miskin 7 turunan, kejebur got bau, dan abses di perianal (byuuhbyuuh). Kata ayah, yaah mungkin zakat kami masih kurang (love you, ayah, for always be positive). Tapi traumanya membekas sekali, sehingga berubahlah rumah minimalis kami menjadi "kedubes Amerika" hahaha
Saingan kedubes Amrik
Mejeng pre-op
Saya buat catatannya di blog supaya bisa saya kenang lagi suatu saat. Pleaseee, blogspot jangan bernasib sama kayak multiply yaa. Besok saya isi lagi deh dengan curhat ga penting saya, insya Allah. Pokoknya kemarin, sekarang, besok dan selalu serta masih akan bersyukur. Karena hidup selalu naik turun.
Rabu, 12 Oktober 2011
Tarik nafas panjang
Selasa kemarin dapat pengalaman tidak menyenangkan. Dengan setting sebuah RS di daerah Bekasi, datang seorang ibu membawa anaknya berusia 6 bulan. Kebetulan si ibu bercadar rapat-rapat. Keluhannya si anak demam, batuk, pilek dan tampak sesak. Setelah pemeriksaan fisis, sekilas yang tampak adalah pneumonia. Karena si anak masih tampak cukup baik keadaan umumnya dengan nafas yang tidak terlalu cepat walaupun terdapat retraksi dinding dada yang ringan, maka saya putuskan untuk rawat jalan terlebih dahulu. So far so good, si ibu mengerti instruksi yang harus dikerjakan. Namun saat resep diberikan dan dijelaskan kegunaan masing-masing obat, jreeeng jreeeng ibu ini langsung menolak resepnya mentah-mentah.
"Saya ngga mau pakai antibiotik!" katanya. Okelah, tawar menawar pun dilakukan, dengan syarat bila besok keadaan memburuk, maka antibiotik diberikan dan diresepkan pada resep yang berbeda.
"Kenapa mama ngga mau dikasih antibiotik? Kan kondisi yang sekarang perlu, ma!" iseng nanya.
"Anak saya ini daya tahan tubuhnya sudah bagus, dok. Dari kecil sampai sekarang cuma ASI, sudah diberi madu dari sejak lahir, dan ga pernah sakit sampai sekarang walaupun ngga diimunisasi", jawabnya yakin.
"Oh, jadi ngga ASI eksklusif ya, Ma? Itu sudah diberi madu dari bayi, padahal kan perutnya belum siap. Sayang juga ya ngga diimunisasi, padahal kalau diimunisasi daya tahan tubuhnya pasti lebih baik lagi."
"Dok, di Al Quran ada ayat tentang madu dan tidak pernah ada ayat tentang imunisasi. Jadi yang tidak ada di Al Quran tidak perlu dijalankan," keukeuhnya.
Gua manggut-manggut sok sabar, padahal dalam hati pengen banget nyemprot tuh ibu.
"Ya sudah ma, sudah prinsip ya. Semoga dede ngga kenapa-kenapa. Balik lagi ya kalau ada diantara tanda2 bahaya tadi tampak sama dede, " sambil mulut rada manyun. Rasanya sih ngga bakalan balik deh tuh ibu.
Setelah si ibu keluar, nyatet-nyatet sebentar, lalu nulis tanda XX kecil di sampul status dan berpesan sama perawat kalau besok dia datang lagi, disarankan saja ke dokter lain daripada nanti bikin hipertensi. Yang begini sih, ga bakalan sembuh sama dokter. Yang begini juga ngga akan nebus obatnya, karena yang dipakai biasanya obat herbal di toko obat. Jadi dia cuma mau tau diagnosis aja.
*tarik nafas panjaaaaaaaaang banget sambil berdoa semoga si dede ngga kenapa2*
*tarik nafas panjaaaaang sambil berdoa semoga walau gerakan anti imunisasi gencar di mana-mana, herd immunity tetap terbentuk sehingga mereka yang ngga sempat divaksin tetap sehat*
*tarik nafas panjaaaaaaangg sambil berdoa semoga yang antivaksin diberi pencerahan oleh seorang dokter yang lebih sabar daripada saya yang langsung hipertensi kalau harus ngotot2an menjelaskan pentingnya imunisasi sama orang yang keukeuh seperti batu*
*tarik nafas panjaaaaaang sambil berdoa supaya yang anti vaksin ngga ngajak2 orang lain yag masih polos ikut2an anti vaksin juga*
*tarik nafas panjaaaaaang sambil berdoa yang bikin kampanye anti vaksin di bawahini kejebur got...#ih ngga ding yang ini pasti ngga dikabulkan pastinya hehehe*
*tarik nafas panjaaaaang sambil berdoa semoga walau gerakan anti imunisasi gencar di mana-mana, herd immunity tetap terbentuk sehingga mereka yang ngga sempat divaksin tetap sehat*
*tarik nafas panjaaaaaaangg sambil berdoa semoga yang antivaksin diberi pencerahan oleh seorang dokter yang lebih sabar daripada saya yang langsung hipertensi kalau harus ngotot2an menjelaskan pentingnya imunisasi sama orang yang keukeuh seperti batu*
*tarik nafas panjaaaaaang sambil berdoa supaya yang anti vaksin ngga ngajak2 orang lain yag masih polos ikut2an anti vaksin juga*
*tarik nafas panjaaaaaang sambil berdoa yang bikin kampanye anti vaksin di bawahini kejebur got...#ih ngga ding yang ini pasti ngga dikabulkan pastinya hehehe*
Selasa, 27 September 2011
Panggilan Hati
Pertama kali menginjak "klinik" ini, hati saya langsung terhempas berkeping-keping. Setelah berjuang 5,4 tahun, masa saya berakhir di "klinik" kampung yang berlabel RSIA ini? Duh, trenyuh rasanya mengingat pengalaman 2 tahun saya sebagai part-time di RSIA laris berargo kuda di bilangan Kampung Melayu. I didn't deserve this. Harusnya saya di RS besar yang mewah, bersih, harum, dan serba lengkap fasiilitasnya. Ini sih sudah pernah saya alami waktu PTT dulu, masa sekarang begini lagi? Di tengah kampung, diantara masyarakat sosial ekonomi bawah, gedung sederhana, perawat yang masih hijau, bahkan kambing berkeliaran di halamannya. Oooh...pleaseee
Setengah hati saya menemui ownernya yang menelpon saya sebelumnya. Mereka mengetahui nomor saya dari salah seorang senior saya. Saat bincang-bincang dengan sang owner, saya sudah tetapkan akan menolak tawaran ini. This wasn' t for me.....I would dropped dead here. Sang owner sendiri adalah pasangan perawat dan bidan asli kampung tersebut, yang harus saya akui memiliki cita-cita mulia meningkatkan derajat kesehatan setempat. Mereka membangun sebuah tempat praktik bidan secara bertahap sampai memiliki plang RSIA seperti sekarang (walaupun sejujurnya menurut saya plang RSIA itu belumlah pantas disandang). Mereka terpicu oleh sulitnya masyarakat setempat mengakses layanan rumah sakit yang terdekat. FYI, lokasi kampung ini terisolir oleh pagar beton kawasan industri MM2100 Cibitung. Bila mereka harus mendapatkan perawatan RS, maka jarak yang harus ditempuh sekitar 10 km ke arah Cikarang. Jadi mereka bertahap membangun klinik mereka sampai akhirnya memiliki layanan RS tipe D. Setidaknya ada fasilitas radiologi, farmasi, laboratorium dan rawat inap. Dan pasien yang masuk tidak harus menyetor DP terlebih dahulu. Suatu tujuan dan cita-cita yang ternyata sangat menyentuh hati ayah saya.
Saat saya sampaikan pada beliau bahwa saya tidak mau menerima tawaran mereka dengan alasan jauhnya jarak tempuh, kondisi dan kecilnya pembayaran, beliau menasehati saya. Kata Bapak, di RS lain yang besar-besar itu, sudah banyak dokter anak yang ngurusin pasiennya. Sedangkan di sini ngga ada yang ngurus. Apa ngga kasian sama anak-anak sini kalau sakit tidak dapat terapi yang tepat? Lagipula kan hidup tidak sekadar mengejar materi belaka, apalagi profesi dokter, masih banyak kewajiban sosial yang harus dijalankan.
Degg...rasanya mata saya seperti dibuka. Benar, sejauh ini kok rasanya saya menjadi jiwa materialis,ya? Jujur saya memang tidak pernah berlebih, tapi juga ALLAH ngga pernah memberikan saya hidup kekurangan. Jadi apa salahnya saya mengembalikan rasa syukur kepada ALLAH di sini? Tempat saya lebih dibutuhkan, toh rizki akan terbuka sendiri bila saya mengetuk di pintu yang tepat. Insya Allah, bila saya melakukan ini, Allah juga tidak melupakan saya. Dan singkat kata, saya menerima tawaran tersebut, walau terkadang keterpaksaan masih sering mengiringi langkah saya.
Tapi Subhanallah, saya justru belajar banyak di sini. Ketajaman klinis saya berulang kali diuji di sini. Pasien APCD, asfiksia, sepsis, gizi buruk, anemia gravis, meningitis, dll ada di sini. Sesuatu yang mungkin saya tidak akan dapatkan di RS besar dengan segudang konsulen ada di sana, karena saya pasti akan merujuk kepada yang lebih kompeten. Tapi di sini, saya tidak bisa merujuk ke mana-mana, karena pasien akan menolak dengan alasan biaya. Dan saya tidak mungkin memulangkan mereka begitu saja bila mereka menolak di rujuk. Dengan segala keterbatasan, saya harus merawat mereka. Saya harus berpikir keras agar dapat mendiagnosis tanpa menggunakan alat canggih. Mata, hidung, kulit dan telinga saya dipaksa menjadi alat diagnostik. Kreatif adalah jalan saya mengatasi keterbatasan alat.
Contoh yang akan saya ingat seumur hidup adalah mengubah sebuah toples plastik bening menjadi head box karena ada bayi yang asfiksia. Bayi yang saat dikonsulkan kepada saya sudah dalam kondisi biru, apneu periodik dan letargis. Sang ayah tidak mau dirujuk karena pekerjaannya serabutan, tidak punya uang. Lalu apakah dipulangkan saja? Rasa kemanusiaan yang bekerja. Dengan antibiotik seadanya, cairan infus seadanya, inkubator seadanya (saya bilang inkubator telor ayam), oksigen head box made in Rini, blue light abal-abal dari lampu UV-nya phillips, alhamdulillah hari ini, hari ke tujuh, bayi tersebut sudah fullfeed, lepas oksigen, sedang belajar minum dan sangat aktif, walau kuning masih ada. Semoga besok dia bisa pulang dan tidak ada kerusakan permanen.
Hhmm, dan memang janji Allah tidak pernah ingkar, alhamdulillah satu demi satu pintu terbuka buat saya. Namun rasanya saya tidak akan meninggalkan lingkungan ini, tidak dalam waktu dekat. Paling tidak sehari dalam satu minggu akan saya tempatkan untuk melayani mereka.Insya Allah, saya tidak ingin berubah!
Setengah hati saya menemui ownernya yang menelpon saya sebelumnya. Mereka mengetahui nomor saya dari salah seorang senior saya. Saat bincang-bincang dengan sang owner, saya sudah tetapkan akan menolak tawaran ini. This wasn' t for me.....I would dropped dead here. Sang owner sendiri adalah pasangan perawat dan bidan asli kampung tersebut, yang harus saya akui memiliki cita-cita mulia meningkatkan derajat kesehatan setempat. Mereka membangun sebuah tempat praktik bidan secara bertahap sampai memiliki plang RSIA seperti sekarang (walaupun sejujurnya menurut saya plang RSIA itu belumlah pantas disandang). Mereka terpicu oleh sulitnya masyarakat setempat mengakses layanan rumah sakit yang terdekat. FYI, lokasi kampung ini terisolir oleh pagar beton kawasan industri MM2100 Cibitung. Bila mereka harus mendapatkan perawatan RS, maka jarak yang harus ditempuh sekitar 10 km ke arah Cikarang. Jadi mereka bertahap membangun klinik mereka sampai akhirnya memiliki layanan RS tipe D. Setidaknya ada fasilitas radiologi, farmasi, laboratorium dan rawat inap. Dan pasien yang masuk tidak harus menyetor DP terlebih dahulu. Suatu tujuan dan cita-cita yang ternyata sangat menyentuh hati ayah saya.
Saat saya sampaikan pada beliau bahwa saya tidak mau menerima tawaran mereka dengan alasan jauhnya jarak tempuh, kondisi dan kecilnya pembayaran, beliau menasehati saya. Kata Bapak, di RS lain yang besar-besar itu, sudah banyak dokter anak yang ngurusin pasiennya. Sedangkan di sini ngga ada yang ngurus. Apa ngga kasian sama anak-anak sini kalau sakit tidak dapat terapi yang tepat? Lagipula kan hidup tidak sekadar mengejar materi belaka, apalagi profesi dokter, masih banyak kewajiban sosial yang harus dijalankan.
Degg...rasanya mata saya seperti dibuka. Benar, sejauh ini kok rasanya saya menjadi jiwa materialis,ya? Jujur saya memang tidak pernah berlebih, tapi juga ALLAH ngga pernah memberikan saya hidup kekurangan. Jadi apa salahnya saya mengembalikan rasa syukur kepada ALLAH di sini? Tempat saya lebih dibutuhkan, toh rizki akan terbuka sendiri bila saya mengetuk di pintu yang tepat. Insya Allah, bila saya melakukan ini, Allah juga tidak melupakan saya. Dan singkat kata, saya menerima tawaran tersebut, walau terkadang keterpaksaan masih sering mengiringi langkah saya.
Tapi Subhanallah, saya justru belajar banyak di sini. Ketajaman klinis saya berulang kali diuji di sini. Pasien APCD, asfiksia, sepsis, gizi buruk, anemia gravis, meningitis, dll ada di sini. Sesuatu yang mungkin saya tidak akan dapatkan di RS besar dengan segudang konsulen ada di sana, karena saya pasti akan merujuk kepada yang lebih kompeten. Tapi di sini, saya tidak bisa merujuk ke mana-mana, karena pasien akan menolak dengan alasan biaya. Dan saya tidak mungkin memulangkan mereka begitu saja bila mereka menolak di rujuk. Dengan segala keterbatasan, saya harus merawat mereka. Saya harus berpikir keras agar dapat mendiagnosis tanpa menggunakan alat canggih. Mata, hidung, kulit dan telinga saya dipaksa menjadi alat diagnostik. Kreatif adalah jalan saya mengatasi keterbatasan alat.
Contoh yang akan saya ingat seumur hidup adalah mengubah sebuah toples plastik bening menjadi head box karena ada bayi yang asfiksia. Bayi yang saat dikonsulkan kepada saya sudah dalam kondisi biru, apneu periodik dan letargis. Sang ayah tidak mau dirujuk karena pekerjaannya serabutan, tidak punya uang. Lalu apakah dipulangkan saja? Rasa kemanusiaan yang bekerja. Dengan antibiotik seadanya, cairan infus seadanya, inkubator seadanya (saya bilang inkubator telor ayam), oksigen head box made in Rini, blue light abal-abal dari lampu UV-nya phillips, alhamdulillah hari ini, hari ke tujuh, bayi tersebut sudah fullfeed, lepas oksigen, sedang belajar minum dan sangat aktif, walau kuning masih ada. Semoga besok dia bisa pulang dan tidak ada kerusakan permanen.
Hhmm, dan memang janji Allah tidak pernah ingkar, alhamdulillah satu demi satu pintu terbuka buat saya. Namun rasanya saya tidak akan meninggalkan lingkungan ini, tidak dalam waktu dekat. Paling tidak sehari dalam satu minggu akan saya tempatkan untuk melayani mereka.Insya Allah, saya tidak ingin berubah!
Minggu, 14 Agustus 2011
Les Dandan Yuks
Kesempatan belajar dandan di “private beauty class” kesampaian juga hari ini. Tawaran semi mendadak dari Agnes Monica imitasi yang menyamar jadi SpA alias Erlin Juwita langsung diiyakan begitu diajukan. Padahal ngga punya waktu buat belanja ‘perlengkapan perang”. Dan tau sendiri lah betapa minimnya isi beauty case punyaku (baca:tempat pensil yang berubah fungsi). Akhirnya dengan bondo nekat, daku kursus singkat dandan hari ini dengan modal pelembab, foundation, bedak padat yang berubah bentuk jadi bedak tabur karena terjatuh, bedak tabur yang tumpah separuh, lipstick 90% habis, dan blush-on salah warna. Erlin sih lumayan bawa perlengkapan banyak dan cukup lengkap (catat:including fake eye lashes), tapi semuanya pinjaman hehehe. Kesimpulannya, Erlin dan daku sama-sama buta dandan.
So, berangkatlah daku dan Erlin bernyasar-nyasar (tapi tidak beria-ria) mencari rumah si instruktur, namanya Mbak Anggie. Dia ini yang punya www.galericantikanggie.com. Kesan pertama ketemu si mbak Anggie ini rada-rada ngga percaya, habis penampilannya biasa banget, ngga ada kesan jago dandan. Tapi begitu duduk di meja rias dan kasih instruksi-instruksi sama kita berdua, plus dipraktekkan juga ke wajahnya, wuaaaahhh langsung berubah cuaaantik banget jadinya si mbak ini. Sampai kagum!
Daku sama Erlin berasa dungdung banget. Step awal saja sudah salah, pakai foundation. Ternyata ada cara sendiri pakai foundation. Selama ini kan daku langsung pukpukpuk hajar bleh pakai foundation hahaha, tapi syukur masih lebih ngerti dibanding si Erlin. Dia ngga tahu beda foundation cair sama padat dan peruntukannya (lah si Erlin mah ngga usah pakai foundation udah putih).
Nah berhubung kulit daku berminyak, hitam dan kusam seperti dasar wajan, tentu lebih susah menyulapnya berada di jalur yang lurus dan benar dibanding Erlin yang memang modalnya dari sono udah bagus hihihi. Seperti ini contohnya, daku kan ngga punya kelopak mata dan bulu mata pendek. So waktu mulai belajar pakai eye-shadow, ribet dah. Kata mbak Anggie harus pakai base warna gelap kalau perlu hitam biar batas matanya tegas. Daku turuti sarannya, lho yang ada mataku kok kayak korban KDRT, hitam seperti habis ditonjok? Belum lagi waktu mulai acara jepit-jepit bulu mata dan pakai mascara, hiyaaah bulu mataku kan ngga bersahabat sama si penjepit, dengan hasil terjepitlah kelopak mata bawah…hiks sakit euy. Terus pakai eyeliner yang juga menyiksa lahir batin, harus konsentrasi dan ga boleh tremor, bisa-bisa keculek deh mata. Haduh menyiksa banget ya mau cantik? Dan begini hasilnya…voila, miripkah sama Mpok Nori? ;D
Ternyata berdandan itu buat perempuan perlu ya, apalagi yang ketemu banyak orang tiap hari kayak daku. Paling tidak dengan berdandan, kita menjadi rapi dan dengan rapi, orang akan senang melihat kita. Orang akan merasa dihargai karena kita berusaha sedikit lebih keras untuk menemui mereka. Hhmm, baiklah, daku akan mencoba berdandan setiap hari (setelah selesai mencuci, menyetrika dan menyiapkan Idan sekolah)….harus bertekad kuat! (*ngga yakin*)
Modal buat dandan juga ternyata besar. Waktu tadi iseng tanya berapa harus keluar modal untuk investasi alat dan perlengkapan dandan, katanya sekitar 1,8 juta IDR. Jumlah yang cukup besar, tapi kalau dihitung perbulan kira-kira 150ribu IDR/bulan, kira-kira 5ribu IDR perhari. Ngga banyak kok, asal dipakai tiap hari….(Nah ngga janji deh ;D)
Tapi yang paling penting sih, cantik harusnya ngga dari luar saja ya, karena yang paling bagus adalah cantik yang datang dari dalam. Happy dandan yaa!
Langganan:
Postingan (Atom)























