Cinta

Cinta
Demi Wildan

Bebek

Bebek
Jepret-jepret karya WIildan
Tampilkan postingan dengan label Intermezzo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Intermezzo. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Desember 2012

DUNIA DI WAKTU KECIL

Tumbuh sebagai seorang anak dengan cap kutu buku buat saya sepertinya tidak jadi masalah. Yah walaupun tidak dipungkiri, setelah saya dewasa ternyata saya menjadi orang dengan kepribadian cenderung menarik diri dan soliter. Tapi, jujur saja, dengan banyaknya buku di sekeliling, saya adalah seorang anak dengan banyak fantasi. Mama dan Bapak saya bisa dibilang jarang mengajak saya dan adik-adik saya berlibur di luar kota, di dalam kota saja rasanya bisa dihitung dengan tangan. Liburan saya hanya berkisar menginap di rumah simbah dan bude-bude saya. Tapi kayaknya saya tidak pernah berkeberatan. Kenapa? Karena imajinasi saya jalan terus akibat terlalu banyak membaca. 

Saya tidak pernah bosan duduk di sudut menyender tembok atau membaca sambil tiduran dengan sebuah komik atau novel anak-anak yang tebal. Padahal buku-buku tersebut sudah berkali-kali saya baca sampai menguning. Herannya, kegemaran saya membaca (dan juga suami saya) tidak menurun kepada si Idan. Hadeuuuh, salah saya kurang getol membacakan cerita untuknya.

Saya paling senang membaca dongeng Grimm, Andersen atau Perrault seperti kebanyakan gadis kecil lainnya. Semua ceritanya saya hapal. Semua fairy tale saya tahu. Saking menikmati dongeng tersebut, kadang saya termimpi-mimpi dan berkhayal jadi putri yang disihir dan diselamatkan pangeran. Kalau Mama-Bapak marah pada saya, saya ngumpet dikamar, berpura-pura mereka adalah naga dan penyihir yang jahat. Dan saya sesenggukan menanti ada ksatria pemberani menyelamatkan saya. Sampai saya lupa sendiri kalau saya sedang sedih habis dimarahin. Hahaha klasik khayalan anak ingusan dan itu terbawa sampai saya jadi emak-emak. Apalagi gambar-gambar di buku-buku cerita saya itu klasik, baguuuus sekali. Sampai kadang saya contek dan jiplak tapi tidak pernah berhasil dengan baik.

Sekarang rasanya saya jarang menemukan buku anak dengan ilustrasi yang bagus. Kebanyakan so cartoony, peyang penjol tidak jelas gambarnya. Tidak seperti gambar indah di buku-buku saya dulu yang jelas sekali rasa seninya (atau memang sense of art saya yang beda haluan dengan illustrator buku anak sekarang). Pokoknya nyeni banget, nyaris seperti lukisan surealisme alirannya Basuki Abdullah dan Raden Saleh. Niat banget deh buku cerita anak dilukis pakai cat minyak, ga kayak sekarang, pakai komputer. Kurang nyeni.

Biar paham maksud saya, saya beri contoh beberapa gambar dan sedikit ringkasan ceritanya

Ini cerita si Little Red Riding Hood. Anak yang diutus ibunya menengok sang nenek yang tinggalnya di seberang hutan. Di tengah jalan bertemu serigala dan sempat berbincang dengan mahluk buas itu. Serigala lalu pergi ke rumah nenek dan menyamar jadi nenek, tapi akhirnya berhasil ditembak ayah si Tudung Merah (ada beberapa versi tapi Grimm memperhalusnya). Pesan moralnya adalah jangan bicara dengan orang asing  kalau bepergian.Kalau nekat, bisa-bisa nenek dimakan serigala hehehe
Lalu ada lagi si Hansel and Gretel, anak Jerman yang kesasar ke rumah permen dan kue milik penyihir kanibal yang suka makan anak-anak gendut dalam kuali. Pesan moralnya sebenarnya adalah kalau pergi sendiri, jangan jauh-jauh dari rumah, bisa tersasar. Dan kalau makan dinding kue dari biskuit, ssstt kunyahnya pelan-pelan, biar ga ketauan yang punya rumah :) .

Terus si Thumbelina, anak perempuan yang sebesar jempol orang dewasa. Yang lahir dari bunga tulip yang mekar. Awalnya Thumbelina selalu protes tentang ukuran tubuhnya yang mungil karena ia jadi tidak bisa kemana-mana. Saking mungilnya, ibunya menidurkannya dalam kulit kenari. 

Thumbelina melarikan diri dari ibu katak yang ga tau diri :)
Gambar dari sini 
Thumbelina diculik ibu katak yang ingin menikahkan dia dengan anaknya yang jelek. Singkat cerita, akhirnya Thumbelina menikah dengan Pangeran Peri yang tinggal di kerajaan peri di ladang tulip. Moral ceritanya, selalu bersyukur jadi diri sendiri dengan kelemahan yang ada, karena pasti ada happy ending-nya. Misalnya ketemu pangeran tampan dan jadi ratu terus punya sayap *fufufu*

Kalau yang ini cerita tentang putri dan kacang polong (the princess and the pie). Jadi ada seorang pangeran yang mencari jodoh, inginnya punya istri yang perasaannya halus (lelembut kalee ah), tapi tidak jua kesampaian. Suatu malam yang berhujan deras, istananya diketuk seorang putri yang kebasahan (tau dari mana ya, emang keluyuran pakai mahkota?). Sang putri walaupun basah kuyup, bajunya robek-robek karena kena badai dan bertelanjang kaki, terlihat cantik sekali (putri raja gembel kali yaak?) dan sang pangeran langsung jatuh cinta (eeeaaaa plis deh ah). Oleh Ibu Ratu, si putri diuji kehalusan perasaannya dengan tidur di tempat tidur dengan kasur berlapis-lapis yang didasar kasur terbawah ditaruh sebuah kacang polong. Paginya, si putri laporan ngga bisa tidur semalaman karena ada sesuatu yang keras di tempat tidurnya. Taraaaa dan langsung deh diangkat jadi mantu. Moral cerita kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda eh maksudnya Don't judge the book by its cover. (Dan jangan nginep di rumah cowok bukan muhrim, jeng, nanti digrebek pak RT). Gambar diambil dari sini

Cerita putri yang lain adalah The Princess and the Frog (bukan yang Tiana dari versi Disney loh ya). Ada putri nih yang waktu main bola emas hadiah dari ayahnya(putri kok main bola?), nah bolanya kecemplung di sumur yang dalam. Putri itu sedih sekali. Tiba-tiba ada seekor katak yang bisa bicara dan bersedia mengambilkan bola emas itu dari dasar sumur asal sang putri mau menciumnya. Ternyata setelah bola diambil, si Putri membatalkan janjinya dan malah kabur. Sang katak lalu mengadu ke Raja, ayah si Putri dan membuat sang raja marah karena putrinya berbohong. Sang putri lalu diperintahkan untuk membawa katak itu ke kamarnya dan memperlakukannya baik-baik. Setiba dikamar, dengan jijik diciumnya sang katak itu lalu dilemparkan sekuat tenaga ke dinding kamar dan ternyata alih-alih katak, yang membentur dinding adalah seorang pangeran tampan (kenapa sih pangeran selalu dibilang tampan, emang ga ada yang jelek ya?). Ternyata katak itu adalah pangeran yang disihir dan hanya bisa kembali bila ada seorang putri yang mau menciumnya. Sampai disini, setelah saya dewasa, saya lebih suka versi Disney, yang putrinya justru berubah jadi katak juga hihihi. Moral cerita: jangan ingkar janji (dan jangan lupa sikat gigi sebelum mencium katak). Catatan : gambar dari sini    


Selasa, 13 November 2012

WINNIE THE POOH

Ga sengaja nonton Winnie the Pooh. Kok tiba-tiba menemukan banyak keanehan ya sama karakter-karakter dalam film ini. Sumpah, baru sadar deh. Hahaha jadilah saya menonton si Winnie dan kawan-kawannya sambil menganalisis jiwa karakternya (salah jurusan kayaknya ya saya).  Dan akhirnya saya ambil kesimpulan, film ini ga bisa ditonton si Idan tanpa didampingi. Yah walaupun nilai-nilai persahabatannya cukup banyak. Tapi tokoh-tokohnya kayaknya sakit jiwa semua ya?
Gambar Winnie The Pooh Nomor 10Si Winnie itu menurut saya karakter anak gendut yang rakus.  Entah karena dia gendut lalu berubah jadi pribadi yang rendah diri dan terobsesi pada madu, atau karena dia karena dia memang sudah rendah diri dari “sono”-nya dan melarikan diri dengan mencandu madu. Ih kan ga beres tuh? Masa dimana saja setiap saat dia memikirkan madu sampai jadi halusinasi? Apa ngga dicontoh sama anak-anak ya nanti? Terobsesi makanan sampai jadi obese? Walau demikian, Pooh sangat baik hati, tidak pernah bersitegang dengan teman-temannya, selalu menjadi penengah.  Oh ya satu lagi, Pooh itu ngga bisa mengeja dengan baik,soalnya dia ngga sekolah sih…. (Pooh also said: I’m the bear with little brain, so long words bored me)

Terus ada Tigger yang menurut saya ADHD. Loncat sana loncat sini boing boing….ngga bisa diam. Super excited on everything, not normal to me. Tigger juga suka bohong, melebih-lebihkan kemampuannya. Looh nanti kalau ditiru sama anak-anak? Tigger sulit memusatkan perhatian dan tidak mendengarkan orang lain berbicara. Coba lihat aja, si Tigger nabrak sana nabrak sini, kalau diikuti anak-anak dan ada yang luka bagaimana? Walaupun Tigger begitu, tapi dia setia kawan selalu siap menolong temannya meski kadang konsekuensinya ga dipikirkan terlebih dahulu. Dengan kata lain si Tigger ini impulsive dan optimis.
Belum lagi menyebutkan si Piglet. Makhluk kecil merah jambu yang super penakut, fobia berlebihan sama semua hal. Belum-belum sudah takut duluan padahal kebanyakan ketakutannya tidak beralasan. Masa dia takut sama suara angin, daun bergemerisik. Wah kayaknya si Piglet ini gangguan cemas berlebihan deh yang perlu terapi hehehe.  Apa enaknya hidup kalau belum mencoba sudah takut duluan? Tapi balik ke nilai-nilai yang ingin ditonjolkan film ini, Piglet adalah seekor babi yang setia kawan. Walau takut luar biasa,  Piglet mencoba menghadapi demi membela temannya (seringnya dengan suara mencicit dan kuping gemetar). Kalimat Piglet yang saya ingat: It is hard to be brave, when you're only a Very Small Animal

Eeyore, keledai abu-abu bermata sayu dan berekor layu yang paling menunjukkan ciri-ciri gangguan jiwa paling jelas di antara teman-temannya. Kayaknya sih Eeyore ini depresi berat deh soalnya dia selalu murung berlebihan, tidak pernah ada sesuatupun yang membuatnya tersenyum. Selama saya nonton sih, ga pernah lihat Eeyore tertawa walaupun teman-temannya sudah berusaha sekuat tenaga. Eeyore juga karakter pesimis. Eeyore juga pemalas, kerjanya duduk di atas bukit, menarik diri dari pergaulan, merenung, dan bersedih. Baaaah mana boleh Idan jadi anak model begini? Yang bagus dari Eeyore apa yah? Wah saya sih ga bisa nemuin satu sifat bagus dari dia. Eh mungkin juga Eeyore begini karena seringnya setiap dia angkat bicara, sama teman-temannya yang lain selalu dicuekin dan dianggap angin lalu. Kasian kamu, Eeyore, padahal kamu banyak mengucapkan kata bijak. Pelajarannya, jangan meremehkan orang lain karena bisa saja kamu membuat dia menjadi depresi.
Rabbit, kelinci tua pemarah, penggerutu dan terobsesi kebersihan.  Kayaknya sih punya Obsessive Compulsive Disorder.  Kalau orang Betawi bilang, senggol bacok, jek… hahaha. Masa anak-anak mencontoh kelakuan si Rabbit? Hadeuh bisa tawuran mulu deh. Untungnya Rabbit ini suka makan sayur dan mengeja paling baik diantara teman-temannya. Masih bisa dicontoh lah sama anak-anak.
Uhhmm siapa lagi ya? Oh iya Christopher Robbins,si empunya boneka. Kata saya sih, dia skizofren soalnya berkhayal berlebihan tentang boneka-bonekanya yang jadi hidup di hutan 100 acres. Atau dia kebanyakan baca buku, jarang main keluar dan sosialisasi dengan anak-anak sebayanya. Kalau anak jaman sekarang, kebanyakan main gadget. Hihihi… Terus bedanya mengkhayal yang sehat dengan halusinasi visual dan auditorik di mana yaaa?
Karakter paling “normal” di Winnie-The Pooh buat saya adalah Roo. Kangguru kecil yang ceria, pandai, pemberani, bersahabat, sopan, menurut pada ibunya. Roo realistis sesuai jiwa anak seharusnya. Roo yang mestinya dijadikan karakter utama pada film ini.
Itulah pentingnya mendampingi anak menonton TV, bisa menunjukkan mana yang baik dan mana yang salah. Walaupun Winnie-The Pooh termasuk kelompok kartun aman bebas kekerasan, tapi siapa sangka karakternya mencerminkan banyak sisi gelap yang kalau tidak hati-hati bisa ditiru oleh anak-anak.
Bagusnya, film ini mengajarkan indahnya persahabatan dan setia kawan kepada anak-anak. Banyak nilai-nilai baik yang bisa diambil dari kalimat-kalimatnya.  Seperti berikut :
A little Consideration, a little Thought for Others, makes all the difference –Eeyore
Don't underestimate the value of Doing Nothing, of just going along, listening to all the things you can't hear, and not bothering – Piglet
If the person you are talking to doesn't appear to be listening, be patient. It may simply be that he has a small piece of fluff in his ear – Eeyore
If you live to be a hundred, I want to live to be a hundred minus one day, so I never have to live without you - Pooh
It's always useful to know where a friend-and-relation is, whether you want him or whether you don't Rabbit
Just because an animal is large, it doesn't mean he doesn't want kindness; however big Tigger seems to be, remember that he wants as much kindness as Roo – Roo
You can't stay in your corner of the forest, waiting for others to come to you; you have to go to them sometimes - Piglet

Minggu, 14 Agustus 2011

Les Dandan Yuks



Kesempatan belajar dandan di “private beauty class” kesampaian juga hari ini. Tawaran semi mendadak dari Agnes Monica imitasi yang menyamar jadi SpA alias Erlin Juwita langsung diiyakan begitu diajukan. Padahal ngga punya waktu buat belanja ‘perlengkapan perang”. Dan tau sendiri lah betapa minimnya isi beauty case punyaku (baca:tempat pensil yang berubah fungsi). Akhirnya dengan bondo nekat, daku kursus singkat dandan hari ini dengan modal pelembab, foundation, bedak padat yang berubah bentuk jadi bedak tabur karena terjatuh, bedak tabur yang tumpah separuh, lipstick 90% habis, dan blush-on salah warna. Erlin sih lumayan bawa perlengkapan banyak dan cukup lengkap (catat:including fake eye lashes), tapi semuanya pinjaman hehehe. Kesimpulannya, Erlin dan daku sama-sama buta dandan.

So, berangkatlah daku dan Erlin bernyasar-nyasar (tapi tidak beria-ria) mencari rumah si instruktur, namanya Mbak Anggie. Dia ini yang punya www.galericantikanggie.com. Kesan pertama ketemu si mbak Anggie ini rada-rada ngga percaya, habis penampilannya biasa banget, ngga ada kesan jago dandan. Tapi begitu duduk di meja rias dan kasih instruksi-instruksi sama kita berdua, plus dipraktekkan juga ke wajahnya, wuaaaahhh langsung berubah cuaaantik banget jadinya si mbak ini. Sampai kagum!

Daku sama Erlin berasa dungdung banget. Step awal saja sudah salah, pakai foundation. Ternyata ada cara sendiri pakai foundation. Selama ini kan daku langsung pukpukpuk hajar bleh pakai foundation hahaha, tapi syukur masih lebih ngerti dibanding si Erlin. Dia ngga tahu beda foundation cair sama padat dan peruntukannya (lah si Erlin mah ngga usah pakai foundation udah putih). 

Nah berhubung kulit daku berminyak, hitam dan kusam seperti dasar wajan, tentu lebih susah menyulapnya berada di jalur yang lurus dan benar dibanding Erlin yang memang modalnya dari sono udah bagus hihihi. Seperti ini contohnya, daku kan ngga punya kelopak mata dan bulu mata pendek. So waktu mulai belajar pakai eye-shadow, ribet dah. Kata mbak Anggie harus pakai base warna gelap kalau perlu hitam biar batas matanya tegas. Daku turuti sarannya, lho yang ada mataku kok kayak korban KDRT, hitam seperti habis ditonjok? Belum lagi waktu mulai acara jepit-jepit bulu mata dan pakai mascara, hiyaaah bulu mataku kan ngga bersahabat sama si penjepit, dengan hasil terjepitlah kelopak mata bawah…hiks sakit euy. Terus pakai eyeliner yang juga menyiksa lahir batin, harus konsentrasi dan ga boleh tremor, bisa-bisa keculek deh mata. Haduh menyiksa banget ya mau cantik? Dan begini hasilnya…voila, miripkah sama Mpok Nori? ;D



Ternyata berdandan itu buat perempuan perlu ya, apalagi yang ketemu banyak orang tiap hari kayak daku. Paling tidak dengan berdandan, kita menjadi rapi dan dengan rapi, orang akan senang melihat kita. Orang akan merasa dihargai karena kita berusaha sedikit lebih keras untuk menemui mereka. Hhmm, baiklah, daku akan mencoba berdandan setiap hari (setelah selesai mencuci, menyetrika dan menyiapkan Idan sekolah)….harus bertekad kuat! (*ngga yakin*)

Modal buat dandan juga ternyata besar. Waktu tadi iseng tanya berapa harus keluar modal untuk investasi alat dan perlengkapan dandan, katanya sekitar 1,8 juta IDR. Jumlah yang cukup besar, tapi kalau dihitung perbulan kira-kira 150ribu IDR/bulan, kira-kira 5ribu IDR perhari. Ngga banyak kok, asal dipakai tiap hari….(Nah ngga janji deh ;D)

Tapi yang paling penting sih, cantik harusnya ngga dari luar saja ya, karena yang paling bagus adalah cantik yang datang dari dalam. Happy dandan yaa!

Kamis, 11 Agustus 2011

Street Fighter

Terpaksa menyetir sendiri itulah kondisi saya sekarang. Hampir 2 minggu ini saya kembali mengendarai mobil pribadi kemana-mana. Terpaksa! Yah, soalnya rute tempat kerja saya yang baru tidak cukup nyaman untuk dilalui dengan angkot dan bus, moda transportasi utama saya selama ini. Padahal yang kenal saya dekat pasti tahu ketidaksukaan saya mengendarai mobil sendiri. Satu, saya tidak mahir parkir apalagi parkir mundur mengingat mobil saya adalah “lokomotif besar”. Dua, saya grogi kalau terpaksa berhenti di jalan menanjak, duuuh kalau mundur bagaimana? 

Namun, mau tidak mau saya harus beradaptasi dan pasrah dengan kondisi saya sekarang. Maka jadilah saya sopir antar kota antar propinsi dengan rute Pondok Gede-Tambun-Cibitung atau Pondok Gede-JORR-Pasar Rebo-JORR-Cibitung. Demi menjemput dan mengetuk pintu rizki, demi bayaran sekolah Idan, demi beli rumah sendiri, saya ikhlas deh. Tapi, FYI, tetap saja saya tidak suka menyetir. Nanti kalau berlian saya sudah banyak, saya mau cari sopir pribadi yang ganteng, keren, dan wangi. Syarat terakhir dibuat mengingat saya trauma dengan aroma tukang ojek pribadi saya selama membuat tesis.

Ada hal-hal yang membuat saya sebal dan bĂȘte bila sedang berkendara. Dan tentu saja makin menambah alasan saya tidak menyukai nyetir sendiri. Alasan pertama adalah para pengendara motor. Hadeeuuuh, tobat deh lihat kelakuan motor-motor di jalan, kayak jalan punya moyangnya sendiri. Tiba-tiba menyalip dari kiri, motong jalan seenak jidat, maksa-maksa masuk ke sela antar mobil. Harusnya untuk bikin SIM motor orang wajib punya IQ ya, soalnya menurut pendapat pribadi saya rata-rata orang naik motor ngga punya otak (kecuali Kanjeng Mas Ali tercinta dan Atungnya Idan tersayang). Salah siapa motor jadi mbludak kayak begitu? *salahkan presidennya aja deh*
Yang juga saya sebal kalau ada orang nyetir (mobil/motor) sambil sms-an atau telpon. Astaga, bodoh atau ignorance sih? Gaya sopir motor kalau telpon-telponan juga bikin sebal, HPnya diselipin di helm dan dia ngobrol dengan santainya, ngga sadar kalau jalannya jadi ke tengah dan menghambat orang lain. Apalagi kalau yang sms-an sambil nyetir, idih rasanya pengen banget saya jitak pakai palu reflex. Bodoh yang tidak tertolong! Yang naik mobil juga sama, nyetir sambil smsan, mungkin matanya ada tiga kali ya, yang dua buat bikin text, yang satu lihat jalan. Bodoh kan? Tapi herannya biar bodoh, kenapa mobilnya bagus-bagus ya?
Belum lagi soal kasih lampu sen (benar ngga sih tulisannya?). Banyak sekali yang ngga pernah kasih sen kalau mau belok. Kalau bajaj sih saya maklum lah, hanya Tuhan dan sopirnya yang tahu kemana mereka akan belok. Tapi kalau motor dan mobil kan ada lampu sen-nya, mbok ya kasih sen! Apa dipikirnya semua orang dijalan paranormal, yang bisa tebak dia mau belok kiri atau kanan? 

Kalau nyetir malam-malam, saya sering papasan sama orang gila yang pasang lampu jauh di jalanan dalam kota. Yang lebih sinting lagi, pakai lampu kabut. Gila, pengen bikin saya buta ya? Waktu buat SIM, mintanya di pak RT kali, bukan di Samsat. 

Kalau yang ini sih bukan soal setir menyetir karena terkait pejalan kaki. Kesal ngga kalau lihat ada orangtua menggandeng anaknya di tepi jalan dengan posisi si anak di bagian yang paling dekat dengan jalan? Seakan mengorbankan si anak untuk tersambar mobil paling dulu. 

Ulah anak-anak ABG yang ugal-ugalan nyetir motor juga bikin saya stres di jalan. Sudah ngga pakai helm , bonceng bertiga, ngebut. Duh, orangtuanya tahu ngga sih? Atau jangan –jangan malah bangga kalau anaknya masih piyik dah bisa kebut-kebutan naik motor? 


Tapi yang paling saya takutkan adalah sesama sopir perempuan, ngga naik motor atau mobil. Khawatir mereka ngga bisa berhenti di jalan menanjak dan ngga bisa parkir mundur kayak saya. Hehehe….