Cinta

Cinta
Demi Wildan

Bebek

Bebek
Jepret-jepret karya WIildan

Jumat, 22 April 2011

Kecil-kecil kok sukanya begadang?


Kecil-kecil kok begadang?

Setiap orangtua pasti pernah punya keluhan seperti di atas terhadap anaknya. Memang ada fase seorang anak mengalami gangguan tidur. Mulai dari yang tidurnya baru bisa setelah tengah malam, sering mimpi buruk atau acapkali terbangun di tengah malam. Keluhan ini sering juga disampaikan di kamar praktik seorang dokter. Saya bisa paham alasan orangtua yang mengeluhkan gangguan tidur anak. Anak sulit tidur, maka orangtua pun akan terpengaruh kuantitas dan kualitas tidurnya. Saya mencoba meringkas berbagai artikel mengenai kesulitan tidur pada anak, semoga bisa menjadi tambahan wacana bagi para orangtua.
Tidur merupakan hal penting yang dibutuhkan seorang anak untuk mencapai tumbuh kembang optimal. Pada saat seorang anak tidur, segera setelah fase tidur nyenyak pada malam hari dimulai, tubuh akan melepaskan hormon pertumbuhan (Growth Hormone/GH) yang merangsang sel-sel tubuh untuk membelah dan bertambah ukuran. Agar GH ini dapat dilepaskan dengan baik, maka dibutuhkan kualitas tidur yang baik.  
Syarat-syarat tidur yang baik adalah waktu lamanya tidur malam tercukupi, tidak terinterupsi, berhubungan dengan lamanya tidur siang (sesuai umur) dan terjadwal sesuai jam biologis anak. Kebutuhan tidur bagi seorang anak berbeda-beda sesuai dengan usianya. Bayi baru lahir tentu membutuhkan tidur yang lebih banyak dibanding bayi 6 bulan. Namun perlu diingat, setiap anak spesial dan memiliki variasi individual. Tabel dari American Academic of Pediatric (AAP)di bawah ini  menunjukkan kebutuhan tidur seorang anak berdasarkan usianya. Kalau kurang besar klik link dibawahnya ya.

http://gettingagoodnightssleep.com/wp-content/uploads/2010/07/wpid-sleep-disorders-and-sleep-problems-in-childhood-4c34a09d09353.gif
Beberapa anak kesulitan mengatur jam biologis ini, sehingga pola tidur mereka berubah, Yang harusnya malam hari untuk tidur, malah sebaliknya. Karena itulah peran orangtua sangat penting dalam membantu anak mengatur jam biologis. Anak harus tahu kapan dia sudah harus tidur, karena itu berikanlah sinyal-sinyal khusus agar anak mengetahui ja m tidurnya sudah dekat. Diperlukan konsistensi dan ketegaan orangtua untuk memulai hal ini. Semakin dini sinyal-sinyal ini dikenalkan, maka semakin kecil anak mengalami gangguan tidur. Tidak ada yang salah dengan menanamkan dan mengenalkan disiplin sedini mungkin, tentu dengan batas yang wajar untuk seorang anak.
Berikut adalah beberapa tips membantu seorang anak tidur dengan berkualitas yang bisa digunakan oleh orangtua:
1.     Biasakan membuat ritual ‘bersih-bersih’ sebelum tidur,seperti cuci tangan, kaki, muka dan sikat gigi. Mengganti baju si anak dengan pakaian tidur yang nyaman akan sangat membantu si kecil pergi tidur. Jangan keluar kamar lagi apabila sudah melakukan ritual ini, ingat Anda harus konsisten!
2.    Buatlah ritual ‘ikatan batin’ dengan anak setelah tips no.1. Bacakanlah untuknya sebuah cerita atau kalau Anda cukup kreatif, karanglah cerita yang belum pernah ia dengar. Bernyanyilah untuknya kalau perlu. Tetaplah di tempat tidurnya beberapa saat, berikan pelukan, tepuk-tepuk bagian tubuhnya atau berikan pijatan ringan agar ia rileks. Batasi waktu sayang2an ini, sebaiknya jangan selalu menunggu sampai ia jatuh tertidur. Tinggalkan si kecil sendiri bila dalam setengah jam belum juga tidur, namun jangan ijinkan ia keluar kamar.  Bila ia keluar kamar, antarkan lagi masuk kamarnya. Begitu dan selanjutnya.
3.    Konsisten dengan waktu yang telah ditetapkan. Bila hari ini diminta tidur jam 8, ya besok dan seterusnya tetap jam 8.
4.    Matikan lampu yang besar, kalau anak takut kegelapan, nyalakan lampu redup. Beberapa anak tidak suka tidur dalam gelap, namun beberapa penelitian menghubungkan berkurangnya produksi GH dengan penggunaan cahaya terang sewaktu tidur.
5.    Sebaiknya tidak ada TV/radio/komputer apalagi play station dalam kamar. Beberapa anak terbiasa tidur dengan adanya suara. Kalau musik diperlukan, pasang musik yang terbukti merangsang perkembangan kognitif anak, misalnya musik klasik, namun segera setelah anak tertidur, matikan musiknya.
6.    Ajari bayi Anda bahwa tidur haruslah di tempat tidur di dalam kamar tidur. Jangan membiasakan bayi Anda tertidur pulas dalam gendongan. Begitu ia mengantuk, taruh di tempat tidur.
7.    Bila anak terbangun di malam hari,jangan segera menyalakan lampu. Tenangkan ia dengan kata-kata yang lembut. Jangan buru-buru menggendongnya. Bayi dan anak dapat mengalami disorientasi saat tiba-tiba terbangun di tengah malam dan dapat membuat mereka ketakutan. Yakinkan mereka bahwa ayah dan ibunya tetap ada untuknya walaupun tidak menggendongnya. Bila anak tidur terpisah dengan orangtua, sebaiknya tidak menunggunya sampai jatuh tidur lagi. Biarkan ia tidur sendiri. Bila ia menangis tunggu beberapa saat, baru kembali ke kamarnya dan tenangkan si anak. Bila saat anda keluar, ia menangis lagi, perpanjang lama waktu anda kembali ke kamarnya. Demikian juga di hari berikutnya. Metode ini disebut metode Ferber. Biasanya seorang anak membutuhkan waktu 3 hari untuk bisa mengikuti pola ini. Bila gagal dalam 3 hari, coba lagi di bulan berikutnya.
8.    Jangan mengajak anak Anda bermain di atas jam 7 malam. Bermain hanya di siang hari saja.
Semoga membantu ya…..

Cita-cita


Sewaktu saya duduk di bangku SD, setiap kali ditanya tentang cita-cita, jawaban saya selalu berubah-ubah. Pernah ingin jadi peragawati dan fotomodel (hahaha, tinggi amat ya cita-citanya?), jadi pegawai bank (kayaknya enak pegang uang terus tiap hari), pramugari (bisa jalan-jalan dan naik pesawat gratis), bahkan pernah pengen jadi presiden (gara-gara ngefans sama Pak Harto). Mulai SMP, cita-cita saya sudah tidak berubah-ubah lagi. Mau jadi dokter , begitu selalu saya menjawab. Cita-cita yang saat itu tampaknya sangat muluk bagi keluarga saya. 

Bapak saya seorang pegawai percetakan kecil yang ordernya tidak pasti dan ibu saya seorang PNS. Hitung-hitungan matematika, rasanya tidak mungkin saya bisa kuliah. Tapi,Subhanallah, Allah Maha Besar, saya bisa sekolah kedokteran, bahkan bisa mengambil spesialisasi. Dengan berbagai cara, orangtua saya membanting tulang supaya saya bisa ikut bimbingan belajar yang terbaik, ikut berbagai kursus bahasa asing, memberikan saya fasilitas belajar terbaik. Saya tidak pernah tahu kesulitan keuangan yang mereka hadapi karena mereka sepertinya selalu meluluskan permintaan saya. Setelah kuliah kedokteran saya selesai, barulah Bapak bercerita banyak betapa sulitnya membiayai saya kuliah. Airmata saya mengucur deras saat Bapak menceritakan semuanya pada saya. Padahal saya kuliah di sebuah fakultas kedokteran negeri di Semarang. Biaya kuliah saya per semester saat itu hanya Rp.180.000, sebuah jumlah yang amat sangat murah bila dibandingkan dengan biaya kuliah kedokteran saat ini yang mencapai ratusan juta rupiah, bahkan di universitas negeri sekalipun!

Betapa besarnya pengorbanan orangtua saya membantu saya terbang setinggi mungkin mencapai cita-cita saya. Betapa banyak cucuran keringat yang orangtua saya keluarkan untuk membuat saya meraih impian saya. Dan tidak akan pernah bisa saya mengganti setiap tetesan keringat dan airmata mereka, bahkan setelah semua mimpi nyaris terwujud. Hanya doa yang bisa saya panjatkan agar Allah SWT membalas semua jasa mereka dengan tempat yang paling tinggi kelak disisinya.

Jadi , jangan takut bermimpi memiliki sesuatu yang lebih baik. Jangan takut memiliki cita-cita setinggi mungkin. Kalau Allah SWT meridhoi, akan ada jalan yang ditunjukkanNYA. Cita-cita itu juga yang sedang saya rajut untuk anak saya tercinta. Semoga Allah SWT menunjukkan jalanNYA. Amin

Jumat, 01 April 2011

God never leaves us alone

 FOODPRINTS ON THE SAND
(Mary Stevenson)

One night a man had a dream.
He dreamed he was walking along the beach with the LORD.


Across the sky flashed scenes from his life.
For each scene, he noticed two sets of footprints in the sand.
One belonging to him and the other to the LORD.

When the last scene of his life flashed before him, he looked back at the footprints in the sand.
He noticed that many times along the path of his life, there was only one set of footprints.
He also noticed that it happened at the very lowest and saddest times of his life.


This really bothered him and he questioned the LORD about it.
"LORD, You said that once I decided to follow you, You would walk with me all the way.
But I have noticed that during the most troublesome times of my life, there's only one set of footprint. I don't understand why when I needed You most You would leave me."


The Lord replied, " My son, My precious child, I love you and I would never leave you.
During your times of trial and suffering, when you see only one set of foot prints, it was then that I carried you."



 INDEED GOD HAS NEVER LEFT US ALONE AND WON'T EVER DO


Picture is taken from http://footprintscja.yolasite.com/links-and-references.php

Selasa, 29 Maret 2011

Anak Susah Makan


"Dokter, Kenapa ya Anak Saya Susah Makan….?"

Duh, paling pusing kalau dapat pertanyaan seperti ini di kamar praktek. Karena pertanyaan yang terdiri dari 7 kata itu, jawabannya bisa satu buku textbook sendiri. Dan waktu konsultasi yang cuma 10-15 menit kadang kurang itu belum tentu bisa memenuhi keingintahuan orangtua kenapa anaknya susah makan. Ekspektasi orangtua biasanya cuma satu,”Dok,kasih vitamin yang paling bagus ya, supaya nafsu makannya ada.” Duh, dokternya tambah puyeng kalau begini. Dikasih ya ngga bener, ngga dikasih orangtuanya kecewa. Kesimpulannya, ya tetap ortu harus dijelaskan sampai sedetil-detilnya. Sayangnya, karena kebanyakan ortu pasien-pasien saya datang dari kelompok menengah ke bawah, walaupun sudah dijelaskan berbusa-busa, ya tetap aja banyak yang ga mudeng ;(

Anak susah makan bukan vitamin jawabannya, Bunda. Banyaaaaak sekali penyebab mengapa anak susah makan dan berat badannya tidak naik, sehingga yang perlu kita cari tahu adalah akar permasalahannya.
Kadang keluhan orangtua ini tidak cocok dengan kondisi status gizi anaknya. Bundanya mengeluh anaknya sulit makan, tetapi status gizi anaknya baik. Usut diusut ternyata si anak bukan susah makan, tapi dia terlalu banyak ngemil dan minum susu sehingga saat makan tiba, dia sudah kenyang. 

Berikut saya coba membahas secara sekilas mengapa anak “susah makan”

Perkembangan ketrampilan makan anak itu sudah dimulai sejak lahir. Insting bayi baru lahir untuk “makan” sudah ada terbukti dengan kemampuannya mencari puting susu ibunya saat inisiasi menyusu dini. Ketrampilan makan ini akan berkembang pesat pada usia 6 – 9 bulan dan berlangsung terus sampai usia 3 tahun. Dengan demikian usia tersebut merupakan fase kritis untuk melatih anak makan dengan baik. Kesalahan yang terjadi pada usia ini dapat menetap bertahun-tahun lamanya dan berdampak pada status gizi anak. ASI eksklusif (ASIX) merupakan awal yang baik untuk dasar pemberian makan. Anak yang mendapat ASIX cenderung lebih mudah mentolerir pemberian makanan padat dibanding bayi yang mendapat susu formula. Memberi makan pada bayi yang baru mengenal makanan padat tentu berbeda. Judulnya saja belajar, jadi tidak harus selalu berhasil pada setiap pemberian makan. Prinsipnya hanya mengenalkan makanan padat, tidak ada target sang bayi harus menghabiskan kuantitas makanannya. Makanan utama bayi kurang dari satu tahun kan cuma susu. 

Syarat mengenalkan makanan adalah satu bahan setiap kali mengenalkan jenis makanan baru selama beberapa hari (biasanya 4-5 hari). Budaya ortu sebaliknya, mencampur seluruh isi lemari es dan memblendernya jadi satu sehingga Ilustrasinya seperti ini, hari ini anak hanya diberikan bubur nasi saja selama 3-4 hari, sesuaikan kemampuan makan anak, jangan memakai target dari pemberi makan. Begitu terus selama beberapa hari sampai si anak kenal rasa bubur nasi. Lihat toleransi alerginya, adakah reaksi yang timbul seperti diare, kulitnya menjadi ruam-ruam, bisul-bisul, atau pilek. Kalau ada, berarti si anak mungkin alergi terhadap protein dari beras. Nanti setelah 2-3 bulan baru coba lagi dengan prinsip yang sama. Kalau tidak ada masalah, boleh ganti dengan jenis bahan makanan lainnya , misalnya kentang. Kalaupun mau coba lagi bubur nasi kombinasi dengan lauk, silakan saja. Coba dengan satu lauk terlebih dahulu, misalnya ayam selama beberapa hari. Jangan takut anak kekurangan gizi, tidak akan karena memang makanan utamanya susu kok. Justru karena itulah, Bunda bisa lebih leluasa mencoba-coba makanan pada si kecil di usia sampai 1 tahun ini tanpa takut kekurangan gizi. Kelebihan mencoba makanan dengan cara ini selain untuk melihat respon alergi anak, juga melatih anak mengenal semua rasa. Mulai dari sayur yang getir sampai ikan yang amis, sehingga anak tidak menjadi anak yang pilih-pilih makanan setelah lebih besar nanti.

Secara umum, ada tiga hal utama penyebab kesulitan makan pada anak:

1.       Faktor organik
Yaitu apabila kesulitan makan memang disebabkan karena ada kelainan baik secara anatomis maupun fisiologis dari tubuh si anak. Seperti ada infeksi akut (radang tenggorokan, flu, diare, radang lambung),infeksi kronis (umumnya tuberculosis atau infeksi saluran kemih asimptomatis). Kelainan bawaan juga bisa menyebabkan hal ini, seperti misalnya sumbing bibir dan langit-langit mulut. Gangguan persyarafan juga sangat mempengaruhi kemampuan makan anak, seperti bila si anak memiliki kondisi lumpuh otak (cerebral palsy), hidrosefalus atau sindrom-sindrom terkait bawaan genetik. Kelainan bawaan dari lahir seperti penyakit jantung bawaan atau  laringomalasia (tulang rawan daerah saluran nafas atas belum sempurna) juga sangat berperan dalam kesulitan makan, terkait besarnya usaha yang dikeluarkan anak untuk mengisap, mengunyah atau menelan makanan. Kelainan fungsi seperti refluks lambung juga sering menyebabkan kesulitan makan. Gangguan di rongga mulut, seperti sedang tumbuh gigi atau banyaknya gigi yang bolong juga harus dievaluasi.Ciri khas seorang anak dengan gangguan makan akibat faktor organik adalah berat badannya yang tidak baik, terkadang gagal tumbuh.

2.       Faktor psikologis
Terkadang faktor ini terabaikan oleh ibu, pengasuh atau bahkan dokternya. Kemampuan anak beradaptasi terhadap lingkungan dan sekitarnya di usia 6 bulan mulai berkembang pesat dan mencapai puncaknya pada usia prasekolah. Anak mulai belajar tentang konsep diri sebagai pribadi dan terkadang sangat ingin menunjukkan pada orang lain tentang kemandiriannya dan menentang dominasi orangtua. Bentuknya dapat sebagai penolakan bila diberi makan.  Gangguan cemas perpisahan pun dapat memicu kesulitan makan, karena secara psikis anak tidak merasa kenyamanan yang biasa ia rasakan. Bunda, bayi pun bisa stres lho, manifestasinya ya menolak makan. Anak pun sedang gemar melakukan eksplorasi lingkungan dan akan menganggap bahwa makan sebagai ‘perusak’ kegiatan yang mengasyikan (apalagi kalau mamanya memberi makan dengan mata melotot dan tangan di pinggang ;D). Nah ini juga penting nya membuat  lingkungan dan suasana makan si anak menyenangkan. Mencari perhatian pun sering dilakukan si anak dengan menolak makan. Apalagi kalau bundanya bekerja (kayak anak saya tuh) dan setiap hari biasa makan dengan pengasuh. 

3.       Faktor makanan
Poin terakhir ini juga tidak boleh dilupakan, justru kadang menjadi penyebab utama. Sekarang Bunda, coba Tanya diri sendiri, apakah kalau makanan tidak enak rasanya, kita nafsu memakannya? Hhhm, pasti jawabnya tidak,kan? Lha, anak juga begitu! Jadi coba lihat lagi menu makanan yang kita berikan pada si anak. Jangan-jangan anak bosan makan dengan menu yang itu-itu aja (kata anak saya:”Huh, ibu masak sayur bayam lagi, sayur bayam lagi!”). Mengetes anak kita tidak suka makan atau memang sulit makan gampang kok, Bun. Lihat saja, kalau di ajak makan di resto fast food, tiba-tiba dia jadi doyan makan, berarti ya memang dia bosan atau ga suka masakan bundanya. Makanya saya suka tanya sama bunda di kamar praktek,”Mam, pinter masak ngga? Mam, siapa yang masak di rumah?”. Karena kalau ternyata bundanya ga pintar masak, maka saya akan minta beliau untuk kursus masak, atau beli buku resep masakan. Kalau ngga bisa juga, saya suruh cari katering yang berkualitas. Saya tidak rekomendasikan beli makanan di warteg karena rasanya dan kualitas yang tidak ramah buat anak.
Minum susu terlalu banyak juga sering jadi biang kerok anak tidak mau makan.  Minum susu berlebihan memang membuat berat badan si anak meningkat, tapi apakah gizinya seimbang? Jelas tidak! Mana seratnya? Hhmm, bisa-bisa malah si kecil datang lagi ke saya karena sembelit. Lagipula setelah satu tahun, anak cuma perlu susu 400ml per hari kok. Jadi ngga usah mendewakan susu ya, Bun? Usus orang Asia pun sebenarnya tidak didesain menjadi peminum susu seperti orang bule. Lagipula susu bukan penyebab anak jadi pintar, tuh pak Habibie waktu kecil ga minum susu pun tetap pintar kok.
Mengemil terlalu banyak pun membuat anak tidak mau makan. Memang camilan bentuknya kecil-kecil dan imut-imut, tapi coba lihat isinya,deh. Hhm, tepung, coklat, susu, kacang, keju, hitung sudah berapa kalori tuh? Banyak lho, bun, jelas saja anaknya kenyang.  Jadi upayakan memberi snack kurang lebih dua jam sebelum waktu makan ya? Mau snack yang lebih sehat lagi? Silahkan kasih buah-buahan, bunda.
                                          Gambar diambil dari www.thenewschronicle.com
Kira-kira itu yang akan saya cari dan gali kalau ada orangtua pasien yang membawa anaknya  karena sulit makan. Jadi jangan harap saya sedemikian gampang memberikan multivitamin ya,Bun? Dan jangan marah ya kalau dokter  sangat banyak bertanya dan terkadang memerlukan banyak pemeriksaan tambahan untuk melihat masalah dasar mengapa anak bunda ga mau makan. Moga-moga tulisan saya ini sedikit membantu bunda mengevaluasi di rumah mengapa si buah hati tidak mau makan. Salam sehat buat seluruh keluarga

Kamis, 17 Maret 2011

Perjuangan Membuat Tesis

Alhamdulillah tanggal tesis bawah saya sudah ada, dan Alhamdulillah juga karena saya tidak terlalu dipersulit dalam mencari tanggal. Semua pembimbing dan penguji saya masih cukup berbaik hati sampai sekarang dan semoga berlanjut sampai nanti ujian selesai. Amin…

Tesis saya mengalami proses yang panjang dari mulai proposal di tahun 2007 yang membuat saya menangis berdarah-darah dan akhirnya selesai di Maret 2011. Lama amat ya hehehe. Proposal memang sat itu dibuat di awal sebagai uji coba KPS dengan harapan saat masih di modul pun residen sudah bisa mengerjakan tesisnya. Sehingga saat lepas modul tidak berlama-lama maju ujian tesis. Tapi, namanya aja percobaan, kayaknya buat saya (dan mayoritas sejawat saya) ga ngefek tuh, yang anomali aja yang sukses jadi kelinci percobaan hehehe. Apalagi tesis saya adalah studi kohort selama 3 bulan untuk satu pasien. Pernah saya coba ambil sampel saat saya masih di modul, alhasil adalah sampelnya lost to follow semua. Sayang amat ya?

Praktis baru selesai modul di bulan Juli akhir tahun 2010, saya baru bisa leluasa mengambil sampel. Berhubung pasien penelitian saya adalah bayi-bayi lulusan perawatan perinatologi, maka saya mulai mendata dengan mengambil seluruh nama bayi yang dirawat periode Januari-Juni 2010. Tidak semuanya eligible karena yang domisilinya terlalu jauh atau alamat yang aneh tidak saya ambil. Setelah terkumpul 96 nama, maka saya mulai menghubungi orangtuanya via telpon. Tidak semuanya memiliki no telpon, sehingga apabila cukup dekat lokasi rumahnya, maka saya akan datang langsung.

Setelah ditelpon, tidak semuanya bersedia ikut dalam penelitian saya. Pokoknya begitu dengar kata penelitian, langsung saya dimusuhin. Padahal penelitian saya tidak invasif, "cuma" main-main dengan bayinya dan kuisioner untuk ibunya plus gratis. Malah saya ganti ongkos ke RSCM kalau mau datang. Setelah belajar dari pengalaman, saya tidak lagi bilang mau meneliti. Saya bilang saja kalau saya dari Poli Tumbuh Kembang RSCM mau datang ke rumah, mau tau kondisi bayinya pascaperawatan untuk dijadikan bahan masukan data RSCM, supaya pelayanan bisa dievaluasi lagi. Setelah saya pakai jurus itu, baru deh mereka mau ikutan. Sebel ga sih?

Hanya sekitar 30% yang bersedia datang ke RSCM. Itupun setelah diiming-imingi dengan vaksinasi gratis, tidak perlu daftar dan antri, langsung ketemu saya, dapat gimmick dan ongkos jalan. Sisanya keukeuh ga mau datang dengan alasan repot, jauh, ga ada yang antar. Hhhh, akhirnya terpaksa didatangi satu-satu. Berbekal data register perinatologi, saya mencari semua alamat mereka di seluruh penjuru Jakarta. Mencarter Bang Ayi, tukang ojek spesialis pengantar residen PPDS kalau lagi penelitian, saya bagaikan mencari jarum dalam jerami. Kalau alamatnya lengkap dengan no rumah sih langsung ketemu, tapi separuh lebih alamat itu tidak ada no rumah. Cuma RT dan RW paling spesifik. Bermuka tebal (dan lusuh plus berminyak) kami beranikan diri bertanya kepada orang-orang yang ditemui di jalan. Mulai dari tukang ojek, tukang bakso, tukang pos, pak RT/RW bahkan pernah ga sengaja nanya orang yang lagi mabok. Kalau ada no HP sih gampang, kadang no HP yang tercatat di register, salah sambung, ga ada nada sambung, tidak aktif. Huhuhu, mau nangis aja rasanya. Catat ya, 90% pasien Perina itu kan dari sosial ekonomi rendah, jadi bisa dibayangkan kami pergi ke daerah seperti apa.

Jangan mikir kami pergi ke daerah elit kayak Pondok Indah gitu. Kalaupun ada yang rumahnya di Menteng, itu letaknya di pinggir kali atau bawah rel kereta api. Ada yang rumahnya bahkan bekas kandang kambing. Serius lho, itu di daerah Pisangan Baru, dekat rel kereta. Ada yang rumahnya cuma satu kamar petak ukuran 3x3m dihuni satu keluarga dengan 4 orang anak. Ada yang rumahnya pinggir kali Ciliwung yang biasa terendam sepaha kalau lagi banjir. Bahkan saya pernah ke Kampung Pulo yang saking padatnya rumah, saya tidak bisa lagi melihat birunya langit.

Melihat itu semua, saya jadi merefleksikan hidup saya lagi. Betapa beruntungnya saya ini, walaupun saya bukan orang berada, tapi selalu merasa cukup. Walaupun rumah saya masih mengontrak, tapi tidak pernah kebanjiran dan digusur.

Semoga perjuangan saya menemui pasien-pasien kecil saya membuahkan hasil yang sepadan ya? Doakan saya ya temans, agar siap maju tanggal 28 Maret nanti.


 

Anak Gendut Tidak Lucu Lagi



Semakin hari semakin sering ketemu anak dengan masalah obesitas dan gizi lebih di kamar praktek. Lebih banyak lagi kalau lihat di sekolah-sekolah, apalagi yang termasuk sekolah elit. Mayoritas muridnya berpipi tembam, berperut buncit dan bergerak lamban. Bahkan tadi pulang dari RSCM aja, ketemu anak tiga tahun gueeeendut banget diangkot sampai ibunya ga bisa mangku. Tidak bisa dipungkiri, obesitas sekarang menjadi salah satu masalah gizi utama di Indonesia dan dunia secara umum. Bahkan WHO jelas menyatakan bahwa obesitas merupakan masalah epidemi global.  Ironis sih, mengingat angka kejadian gizi buruk di Indonesia juga masih tinggi dan makin meningkat dari tahun ke tahun.

Stigma anak gemuk adalah anak sehat dan lucu masih mendominasi budaya kita. Semua ibu preokupasi membuat anaknya terlihat lebih gemuk. “Kalau gemuk, gemes lihatnya, dok!” atau “Kalau kurus kan malu saya, nanti dikira mertua saya, anak saya ga diurusin” begitu alasan beberapa ibu yang saya tanya kenapa kepengen anaknya gemuk. Duh, ganti saya yang gemes sama ibunya!

Anak gemuk memang lebih menyenangkan dipandang dibanding anak yang lebih langsing, ya.Pipinya kayak bakpau, enak kalau dicubit-cubit. Tapi mereka tau ga sih bahayanya dari kelebihan berat badan di masa anak? Kalau tau, kayaknya pada ogah kali ya punya anak gemuk. Apalagi sudah sampai tahap obesitas.
Apa sih obesitas? Obesitas adalah suatu KELAINAN atau PENYAKIT yang ditandai dengan penimbunan jaringan lemak tubuh secara berlebih. Bila dengan pengukuran berat badan yang dibandingkan tinggi badan (BB/TB) maka hasilnya berada di persentil ke 95 kurva standar atau > 120%. Atau bila Body Mass Index (BMI) > 20%. Jadi, obesitas itu penyakit lho. Anak obesitas berpotensi memiliki banyak kelainan, tidak saja di masa kanak2nya tapi juga di masa dewasanya. Sepintas tidak ada yang salah dengan anak gemuk, tapi kalau kita mau lihat lebih dalam lagi, banyak masalahnya. Mulai dari psikis sampai fisik.

Asal tahu saja ya, sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa manusia yang di masa kanak2nya merupakan anak obesitas, di usia dewasa mudanya mengalami berbagai gangguan dan gejala kardiovaskuler. Misalnya serangan jantung dan stroke yang datang lebih dini di usia produktif. Penyakit degeneratif lain seperti hipertensi , diabetes mellitus, hiperkolesterol juga datang lebih awal. Akibatnya mereka menjadi manusia yang tidak produktif bahkan harapan hidupnya berkurang. Apa ini yang kita mau dengan anak yang mestinya kita harapkan menjaga kita di hari tua? Nggak kan? Anak obese akan malas bergerak karena beratnya beban yang harus ditanggung oleh tulang2 kakinya. Sering ditemukan anak obese mengeluh nyeri sendi, sehingga semakin malas dia bergerak. Jadilah vicious cycle yang sulit diputus sehingga saat ia dewasa, ia akan menjadi orang dewasa yang pemalas.

Anak laki-laki dengan obesitas juga sering punya keluhan masalah “buried penis”. Sering sekali ketemu orangtua yang mengeluhkan anaknya memiliki penis yang kecil, padahal sebenarnya penisnya cukup ukurannya, tetapi tertimbun di jaringan lemak yang sangat tebal. Ujung2nya kalau si anak sudah cukup mengerti di usia lebih dewasa, dia akan mengalami rasa rendah diri bahkan depresi. Depresi bahkan lebih sering dan lebih berat gejalanya apabila obesitas ini dialami anak perempuan. Duh, kalau sudah ketemu anak depresi begini, bahkan dokternya pun bingung menerapinya karena masalahnya adalah body image. Tahu kan, peer-group pada anak itu bisa jadi sangat kejam? Anak lain akan selalu mengejek anak gendut dengan ejekan yang menyakitkan yang akan memperberat depresi si anak. Dan ini semua seperti lingkaran setan. Semakin depresi si anak, semakin si anak menarik diri, semakin dia melarikan diri pada makanan karena makanan satu-satunya yang dapat memberikan kepuasan. Memotong lingkaran ini tidak mudah.

Saya tidak mau membahas bagaimana mengatasi anak dengan obesitas, saya merasa belum cukup kompeten untuk itu. Tapi saya justru ingin menekankan bagaimana mencegah anak agar tidak menjadi obes. 

1.       Buang stigma anak gemuk adalah anak sehat. Buang stigma ini dari pikiran orangtua, nenek kakek dan pengasuhnya.  Sehingga mereka tidak terpicu untuk memberi makan anak dengan kalori yang berlebihan. 

2.       Ubah gaya hidup di rumah. Matikan TV, batasi waktu menontonnya sejam sehari dan simpan jauh2 segala game console yang anak miliki. Ajak anak bergerak, belikan sepeda, naik sepeda sepeda bersamanya. Belikan bola sepak, main bola bersamanya. Jangan ke mal untuk rekreasi, pindah piknik ke alam bebas. Seputar Jakarta juga masih banyak kok, ke Taman Suropati, Taman Menteng, Monas, Taman Mini atau ikut Car Free Day. Ajak anak main layangan, jogging atau apa saja yang membuatnya bergerak. Anak sekarang kan tidak lagi selalu bermain dengan teman2nya di luar rumah, mereka cenderung diam di rumah, menonton TV atau online. Jadi orangtua lah yang harus berkorban sedikit mengajak dan ikut serta agar anaknya bergerak. Ingat orangtua yang juga obese, cenderung memicu anak menjadi obese, lebih karena gaya hidup bukan karena semata faktor genetik. Potong bujet makan di fastfood, dan ajari anak mencoba makanan tradisional yang lebih kaya serat dan sayuran. Bagaimana mau mengajak anak makan sayur kalau orangtuanya tidak kasih contoh? Ganti snack di rumah dengan buah atau camilan dengan gandum utuh. Inti dari semua ini adalah orangtua dan waktu yang diluangkan bersama! Saya rasa kalau meluangkan waktu untuk anak itu bukan pengorbanan ya? Itu kewajiban orangtua.

3.       ASI ekslusif sebagai benteng awal melindungi anak dari obesitas. Tentang asi ini saya mau bicarakan di lain waktu. Anak dengan ASI memang cenderung lebih langsing daripada bayi dengan formula, tapi harus diingat bahwa massa ototnya lebih banyak. Bayi dengan susu formula memang gembrot tapi dengan massa lemak berlebih.  Jangan berlebihan memberikan susu formula pada anak. Toh setelah usianya 1 tahun, makanan utamanya bukan lagi susu, tapi makanan keluarga. Kebutuhan susu pada anak di atas 1 tahun hanya 400 ml sehari atau 2 gelas sehari agar kecukupan kalsiumnya terpenuhi. 

Pokoknya begini, peranan orangtua itu penting dalam mencegah anak menjadi obes. Dan tentu saja lebih baik mencegah daripada mengobati. Ada yang mau menambahkan?

Selasa, 15 Maret 2011

School For Wildan

Akhirnya kami sepakat menitipkan Wildan menempuh pendidikan dasarnya di Jakarta Islamic School. Banyak pertimbangan yang kami pikirkan masak-masak sebelumnya. Biaya sekolah yang cukup mahal adalah satu yang paling menjadi pertimbangan. Kekhawatiran bahwa Wildan akan bosan dengan jam sekolah yang panjang juga menjadi bahan pemikiran berhari-hari. Tapi, akhirnya kami menetapkan hati dengan membaca Basmallah semoga keputusan ini adalah yang terbaik bagi Wildan.

Toh bila anak orang lain mampu, rasanya Wildan juga akan sanggup bersekolah di sana. Kami juga tidak terlalu khawatir dengan Wildan mengingat dia anak yang cukup ceria, easy to warm-up, mudah bersosialisasi dan cukup mandiri. Kemampuan konsentrasi dan belajarnya semakin hari juga semakin meningkat.

Bukan karena gengsi menyekolahkan anak di sekolah swasta yang berbiaya tinggi, melainkan merupakan kebutuhan, walau bukan keharusan. Kesibukan kami yang sama-sama mencari nafkah dan komitmen tidak memiliki pekerja rumah tangga lagi adalah alasan yang sangat kuat. Setelah survey ke beberapa sekolah, saya merasa kecewa terhadap pendeknya jam sekolah dan padatnya populasi murid dalam satu kelas. Duh, dapat apa nanti ya di sekolah? Ehm, kalau jam 10 sudah pulang, sama siapa di rumah? Masa titip Atung Uti lagi? Nanti di rumah, dia ngapain aja? Nonton TV? Main game? Belum lagi kalau harus les tambahan. Siapa yang antar? Masa Atung lagi? Kan Atung juga makin lama makin sepuh. Kalaupun terpaksa punya asisten lagi, kayaknya mustahil bisa bantu Wildan belajar di rumah. Lah sekolahnya si asisten aja putus, masa mau bantu belajar Wildan?

Seperti mensimulasi diri sendiri akhirnya. Dengan pertanyaan2 itu, akhirnya kami yakin bahwa Wildan sekolah di JIS yang full-day adalah jawabannya. Kontroversi mengenai baik buruknya full-day school terhadap psikologi anak memang masih beredar di kalangan pemerhati pendidikan. Tapi kami berpendapat, memang tidak ada yang sempurna. Tugas kamilah nanti yang menambal ketidaksempurnaan itu.

Pendidikan anak memang tanggungjawab utama orangtua. Sebaik apapun sekolah si anak, orangtua-lah yang memegang kendali penuh. Sangat tidak bertanggungjawab bila melepaskan 100% pendidikan anak terhadap guru dan sekolah. Namun apabila orangtua tidak mampu menyediakan waktu 100% untuk mendidik anak karena satu dan berbagai hal (seperti mencari nafkah), maka seharusnya orangtua mencari mitra pendidik yang dianggap terbaik. Untuk kami, mitra ini haruslah yang memiliki kesamaan visi dan misi dalam membentuk karakter anak, tidak melulu menekankan pendidikan sebatas angka di lembar evaluasi. Biaya pendidikan yang mahal itu merupakan kompensasi untuk kesamaan tujuan dan visi kami.

Mengapa di JIS? Tentunya banyak alasan. Sekolah full-day berbasis lingkungan Islami lainnya dengan visi setara menetapkan biaya yang lebih tinggi daripada JIS dan menurut kami tidak masuk akal. Kedua lokasi sekolah tidak terlalu jauh dan masih memungkinkan Wildan menggunakan angkutan umum untuk berangkat dan pulang sekolah sendiri nantinya. Tentunya saya sangat ingin Wildan mandiri suatu saat nanti. Ketiga , lingkungan sekolahnya termasuk cukup tenang di lingkungan perumahan, tidak dilintasi kendaraan. Last but not least, saya menginginkan Wildan terpapar pada suasana Islami, dengan tutur kata santun, terbiasa mengucapkan salam. Dengan berada pada lingkungan yang baik sedari kecil, kami berharap kelak Wildan mampu memiliki filter yang baik terhadap lingkungan yang buruk. Saya tidak menjadikan Wildan steril, tetapi saya ingin Wildan menjadi imun terhadap paparan penyakit sosial. Bila Wildan memiliki penyaring yang baik, seburuk apapun lingkungannya kelak, maka ia akan mampu memilah mana yang baik, mana yang tidak.

Semoga pilihan kami tidak keliru. Semoga harapan kami tidak terlalu tinggi. Semoga kami bisa menjaga Wildan sebaik-baik yang diharapkan Allah SWT. Semoga kami dapat mendidik Wildan setinggi yang kami dan Wildan mampu. Semoga kami menjadi orangtua yang sebaik-baiknya bagi Wildan. Karena tidak pernah ada sekolah untuk menjadi orangtua yang baik dan sempurna selain dari pengalaman.