Beberapa anak kesulitan mengatur jam biologis ini, sehingga pola tidur mereka berubah, Yang harusnya malam hari untuk tidur, malah sebaliknya. Karena itulah peran orangtua sangat penting dalam membantu anak mengatur jam biologis. Anak harus tahu kapan dia sudah harus tidur, karena itu berikanlah sinyal-sinyal khusus agar anak mengetahui ja m tidurnya sudah dekat. Diperlukan konsistensi dan ketegaan orangtua untuk memulai hal ini. Semakin dini sinyal-sinyal ini dikenalkan, maka semakin kecil anak mengalami gangguan tidur. Tidak ada yang salah dengan menanamkan dan mengenalkan disiplin sedini mungkin, tentu dengan batas yang wajar untuk seorang anak.
Cinta
Demi Wildan
Bebek
Jepret-jepret karya WIildan
Jumat, 22 April 2011
Kecil-kecil kok sukanya begadang?
Beberapa anak kesulitan mengatur jam biologis ini, sehingga pola tidur mereka berubah, Yang harusnya malam hari untuk tidur, malah sebaliknya. Karena itulah peran orangtua sangat penting dalam membantu anak mengatur jam biologis. Anak harus tahu kapan dia sudah harus tidur, karena itu berikanlah sinyal-sinyal khusus agar anak mengetahui ja m tidurnya sudah dekat. Diperlukan konsistensi dan ketegaan orangtua untuk memulai hal ini. Semakin dini sinyal-sinyal ini dikenalkan, maka semakin kecil anak mengalami gangguan tidur. Tidak ada yang salah dengan menanamkan dan mengenalkan disiplin sedini mungkin, tentu dengan batas yang wajar untuk seorang anak.
Cita-cita
Jumat, 01 April 2011
God never leaves us alone
(Mary Stevenson)
One night a man had a dream.
He dreamed he was walking along the beach with the LORD.
Across the sky flashed scenes from his life.
For each scene, he noticed two sets of footprints in the sand.
One belonging to him and the other to the LORD.
When the last scene of his life flashed before him, he looked back at the footprints in the sand.
He noticed that many times along the path of his life, there was only one set of footprints.
He also noticed that it happened at the very lowest and saddest times of his life.
This really bothered him and he questioned the LORD about it.
"LORD, You said that once I decided to follow you, You would walk with me all the way.
But I have noticed that during the most troublesome times of my life, there's only one set of footprint. I don't understand why when I needed You most You would leave me."
The Lord replied, " My son, My precious child, I love you and I would never leave you.
During your times of trial and suffering, when you see only one set of foot prints, it was then that I carried you."
INDEED GOD HAS NEVER LEFT US ALONE AND WON'T EVER DO
Picture is taken from http://footprintscja.yolasite.com/links-and-references.php
Selasa, 29 Maret 2011
Anak Susah Makan
Duh, paling pusing kalau dapat pertanyaan seperti ini di kamar praktek. Karena pertanyaan yang terdiri dari 7 kata itu, jawabannya bisa satu buku textbook sendiri. Dan waktu konsultasi yang cuma 10-15 menit kadang kurang itu belum tentu bisa memenuhi keingintahuan orangtua kenapa anaknya susah makan. Ekspektasi orangtua biasanya cuma satu,”Dok,kasih vitamin yang paling bagus ya, supaya nafsu makannya ada.” Duh, dokternya tambah puyeng kalau begini. Dikasih ya ngga bener, ngga dikasih orangtuanya kecewa. Kesimpulannya, ya tetap ortu harus dijelaskan sampai sedetil-detilnya. Sayangnya, karena kebanyakan ortu pasien-pasien saya datang dari kelompok menengah ke bawah, walaupun sudah dijelaskan berbusa-busa, ya tetap aja banyak yang ga mudeng ;(
Kamis, 17 Maret 2011
Perjuangan Membuat Tesis
Tesis saya mengalami proses yang panjang dari mulai proposal di tahun 2007 yang membuat saya menangis berdarah-darah dan akhirnya selesai di Maret 2011. Lama amat ya hehehe. Proposal memang sat itu dibuat di awal sebagai uji coba KPS dengan harapan saat masih di modul pun residen sudah bisa mengerjakan tesisnya. Sehingga saat lepas modul tidak berlama-lama maju ujian tesis. Tapi, namanya aja percobaan, kayaknya buat saya (dan mayoritas sejawat saya) ga ngefek tuh, yang anomali aja yang sukses jadi kelinci percobaan hehehe. Apalagi tesis saya adalah studi kohort selama 3 bulan untuk satu pasien. Pernah saya coba ambil sampel saat saya masih di modul, alhasil adalah sampelnya lost to follow semua. Sayang amat ya?
Praktis baru selesai modul di bulan Juli akhir tahun 2010, saya baru bisa leluasa mengambil sampel. Berhubung pasien penelitian saya adalah bayi-bayi lulusan perawatan perinatologi, maka saya mulai mendata dengan mengambil seluruh nama bayi yang dirawat periode Januari-Juni 2010. Tidak semuanya eligible karena yang domisilinya terlalu jauh atau alamat yang aneh tidak saya ambil. Setelah terkumpul 96 nama, maka saya mulai menghubungi orangtuanya via telpon. Tidak semuanya memiliki no telpon, sehingga apabila cukup dekat lokasi rumahnya, maka saya akan datang langsung.
Setelah ditelpon, tidak semuanya bersedia ikut dalam penelitian saya. Pokoknya begitu dengar kata penelitian, langsung saya dimusuhin. Padahal penelitian saya tidak invasif, "cuma" main-main dengan bayinya dan kuisioner untuk ibunya plus gratis. Malah saya ganti ongkos ke RSCM kalau mau datang. Setelah belajar dari pengalaman, saya tidak lagi bilang mau meneliti. Saya bilang saja kalau saya dari Poli Tumbuh Kembang RSCM mau datang ke rumah, mau tau kondisi bayinya pascaperawatan untuk dijadikan bahan masukan data RSCM, supaya pelayanan bisa dievaluasi lagi. Setelah saya pakai jurus itu, baru deh mereka mau ikutan. Sebel ga sih?
Hanya sekitar 30% yang bersedia datang ke RSCM. Itupun setelah diiming-imingi dengan vaksinasi gratis, tidak perlu daftar dan antri, langsung ketemu saya, dapat gimmick dan ongkos jalan. Sisanya keukeuh ga mau datang dengan alasan repot, jauh, ga ada yang antar. Hhhh, akhirnya terpaksa didatangi satu-satu. Berbekal data register perinatologi, saya mencari semua alamat mereka di seluruh penjuru Jakarta. Mencarter Bang Ayi, tukang ojek spesialis pengantar residen PPDS kalau lagi penelitian, saya bagaikan mencari jarum dalam jerami. Kalau alamatnya lengkap dengan no rumah sih langsung ketemu, tapi separuh lebih alamat itu tidak ada no rumah. Cuma RT dan RW paling spesifik. Bermuka tebal (dan lusuh plus berminyak) kami beranikan diri bertanya kepada orang-orang yang ditemui di jalan. Mulai dari tukang ojek, tukang bakso, tukang pos, pak RT/RW bahkan pernah ga sengaja nanya orang yang lagi mabok. Kalau ada no HP sih gampang, kadang no HP yang tercatat di register, salah sambung, ga ada nada sambung, tidak aktif. Huhuhu, mau nangis aja rasanya. Catat ya, 90% pasien Perina itu kan dari sosial ekonomi rendah, jadi bisa dibayangkan kami pergi ke daerah seperti apa.
Jangan mikir kami pergi ke daerah elit kayak Pondok Indah gitu. Kalaupun ada yang rumahnya di Menteng, itu letaknya di pinggir kali atau bawah rel kereta api. Ada yang rumahnya bahkan bekas kandang kambing. Serius lho, itu di daerah Pisangan Baru, dekat rel kereta. Ada yang rumahnya cuma satu kamar petak ukuran 3x3m dihuni satu keluarga dengan 4 orang anak. Ada yang rumahnya pinggir kali Ciliwung yang biasa terendam sepaha kalau lagi banjir. Bahkan saya pernah ke Kampung Pulo yang saking padatnya rumah, saya tidak bisa lagi melihat birunya langit.
Melihat itu semua, saya jadi merefleksikan hidup saya lagi. Betapa beruntungnya saya ini, walaupun saya bukan orang berada, tapi selalu merasa cukup. Walaupun rumah saya masih mengontrak, tapi tidak pernah kebanjiran dan digusur.
Semoga perjuangan saya menemui pasien-pasien kecil saya membuahkan hasil yang sepadan ya? Doakan saya ya temans, agar siap maju tanggal 28 Maret nanti.
Anak Gendut Tidak Lucu Lagi
Selasa, 15 Maret 2011
School For Wildan
Akhirnya kami sepakat menitipkan Wildan menempuh pendidikan dasarnya di Jakarta Islamic School. Banyak pertimbangan yang kami pikirkan masak-masak sebelumnya. Biaya sekolah yang cukup mahal adalah satu yang paling menjadi pertimbangan. Kekhawatiran bahwa Wildan akan bosan dengan jam sekolah yang panjang juga menjadi bahan pemikiran berhari-hari. Tapi, akhirnya kami menetapkan hati dengan membaca Basmallah semoga keputusan ini adalah yang terbaik bagi Wildan.
Toh bila anak orang lain mampu, rasanya Wildan juga akan sanggup bersekolah di sana. Kami juga tidak terlalu khawatir dengan Wildan mengingat dia anak yang cukup ceria, easy to warm-up, mudah bersosialisasi dan cukup mandiri. Kemampuan konsentrasi dan belajarnya semakin hari juga semakin meningkat.
Bukan karena gengsi menyekolahkan anak di sekolah swasta yang berbiaya tinggi, melainkan merupakan kebutuhan, walau bukan keharusan. Kesibukan kami yang sama-sama mencari nafkah dan komitmen tidak memiliki pekerja rumah tangga lagi adalah alasan yang sangat kuat. Setelah survey ke beberapa sekolah, saya merasa kecewa terhadap pendeknya jam sekolah dan padatnya populasi murid dalam satu kelas. Duh, dapat apa nanti ya di sekolah? Ehm, kalau jam 10 sudah pulang, sama siapa di rumah? Masa titip Atung Uti lagi? Nanti di rumah, dia ngapain aja? Nonton TV? Main game? Belum lagi kalau harus les tambahan. Siapa yang antar? Masa Atung lagi? Kan Atung juga makin lama makin sepuh. Kalaupun terpaksa punya asisten lagi, kayaknya mustahil bisa bantu Wildan belajar di rumah. Lah sekolahnya si asisten aja putus, masa mau bantu belajar Wildan?
Seperti mensimulasi diri sendiri akhirnya. Dengan pertanyaan2 itu, akhirnya kami yakin bahwa Wildan sekolah di JIS yang full-day adalah jawabannya. Kontroversi mengenai baik buruknya full-day school terhadap psikologi anak memang masih beredar di kalangan pemerhati pendidikan. Tapi kami berpendapat, memang tidak ada yang sempurna. Tugas kamilah nanti yang menambal ketidaksempurnaan itu.
Pendidikan anak memang tanggungjawab utama orangtua. Sebaik apapun sekolah si anak, orangtua-lah yang memegang kendali penuh. Sangat tidak bertanggungjawab bila melepaskan 100% pendidikan anak terhadap guru dan sekolah. Namun apabila orangtua tidak mampu menyediakan waktu 100% untuk mendidik anak karena satu dan berbagai hal (seperti mencari nafkah), maka seharusnya orangtua mencari mitra pendidik yang dianggap terbaik. Untuk kami, mitra ini haruslah yang memiliki kesamaan visi dan misi dalam membentuk karakter anak, tidak melulu menekankan pendidikan sebatas angka di lembar evaluasi. Biaya pendidikan yang mahal itu merupakan kompensasi untuk kesamaan tujuan dan visi kami.
Mengapa di JIS? Tentunya banyak alasan. Sekolah full-day berbasis lingkungan Islami lainnya dengan visi setara menetapkan biaya yang lebih tinggi daripada JIS dan menurut kami tidak masuk akal. Kedua lokasi sekolah tidak terlalu jauh dan masih memungkinkan Wildan menggunakan angkutan umum untuk berangkat dan pulang sekolah sendiri nantinya. Tentunya saya sangat ingin Wildan mandiri suatu saat nanti. Ketiga , lingkungan sekolahnya termasuk cukup tenang di lingkungan perumahan, tidak dilintasi kendaraan. Last but not least, saya menginginkan Wildan terpapar pada suasana Islami, dengan tutur kata santun, terbiasa mengucapkan salam. Dengan berada pada lingkungan yang baik sedari kecil, kami berharap kelak Wildan mampu memiliki filter yang baik terhadap lingkungan yang buruk. Saya tidak menjadikan Wildan steril, tetapi saya ingin Wildan menjadi imun terhadap paparan penyakit sosial. Bila Wildan memiliki penyaring yang baik, seburuk apapun lingkungannya kelak, maka ia akan mampu memilah mana yang baik, mana yang tidak.
Semoga pilihan kami tidak keliru. Semoga harapan kami tidak terlalu tinggi. Semoga kami bisa menjaga Wildan sebaik-baik yang diharapkan Allah SWT. Semoga kami dapat mendidik Wildan setinggi yang kami dan Wildan mampu. Semoga kami menjadi orangtua yang sebaik-baiknya bagi Wildan. Karena tidak pernah ada sekolah untuk menjadi orangtua yang baik dan sempurna selain dari pengalaman.


