Cinta

Cinta
Demi Wildan

Bebek

Bebek
Jepret-jepret karya WIildan

Senin, 24 Januari 2011

Remarkable Fashion * In Quotation*

Saya bukan penggila mode, tapi cukup sering mengamati mode. Sehari-hari saya tidak harus mengikuti gaya fashion yang sedang trend. Cukuplah dengan berpakaian rapi, serasi, wangi dan enak dilihat. Hanya saja sampai saat ini saya belum pintar dandan dan masih cukup *miskin* untuk pergi ke perawatan kulit, sehingga penampilan wajah dan baju suka nggak matching (hei...tapi itu kita bicarakan di lain waktu ya?). Dan dari kacamata saya yang bukan fashionista ini, ada beberapa mode yang TIDAK AKAN pernah saya pakai. Alasannya sih macam-macam, seperti tidak akan cocok di bodi saya yang oversized ini atau memang modelnya yang AJAIB. Nah, ini beberapa mode yang menurut saya amat sangat terlalu ajaib, sehingga kalau saya pakai, maka saya akan menghilang (baca:ngumpet dari pandangan orang) ;D

1. 1. Kaftan

Pertama dengar nama model baju pesta yang satu ini, saya terkesiap : “ Apa? KAFAN??”..Pardon, my hillbilly ears, ya, hehehe. Ternyata ini sebutan untuk model gaun panjang asal Maroko (bener ga sih?) yang lurus dan ga ada potongan di pinggang serta berjuntai-juntai menutupi mata kaki. Okay, what does it remind you of? Ring..ring!!! That’s right, this is Miss Kunti’s wardrobe. Kalau memang chasing-nya sudah bagus sih, ya tetap saja cantik dan anggun. Tapi kalau saya yang pakai, dooh, miss Kunti punya saingan berat. Bukan hanya dia, tapi rasanya Rama Aiphama, si penyanyi dangdut itu pun akan tersaing. Pokoknya tidak akan pernah deh pakai yang model begini. Kalau saya bertemu seseorang di pesta nikah dengan kaftan, saya akan curi-curi pandang ke kakinya. Kalau kelihatan mata kakinya, saya akan sapa dia, tapi kalau tidak terlihat, maka saya akan KABUR…..hiyaaa!!

2. Harem Pants

AKA celana Aladin AKA celana MC Hammer. Yang saya tahu pakai celana kayak gini sih emang cowoknya si Princess Jasmine itu, atau rapper keling yang nyanyi “You can’t touch this” ( tebak berapa umur saya??). Kalau kamu memang punya karpet ajaib dan jin warna biru, mungkin kamu memang pantas pakai celana ini. Tapi tolong pertimbangkan kalau pakai celana ini untuk belanja ke hypermarket ya, bisa-bisa kamu dicurigai satpam ngumpetin coklat di kantong celana hihihi..


Jumpsuit

Kecuali kamu montir atau cewek berusia di bawah satu tahun, saya sarankan ga usah deh pakai baju begini. Sepertinya repot kalau mau pipis, ya? Apalagi kalau sudah kebelet, terus ternyata toiletnya antri, hadeuuh bisa kecelakaan deh. Saya juga sebenarnya suka pakai baju monyet begini, tapi itu waktu saya masih umur enam bulan (kata emak saya lho). So, big girls don’t wear baby’s outfit, okay??

4. Skinny Jeans

Seringnya ketemu mahasiswi yang pakai celana model begini ..*sambil memandang sirik kelangsingannya*. Eh tapi cowok-cowok juga sering pakai sih. Yang terlintas di pikiran sih, “Duh, berapa lama ya buat makai dan lepas tuh celana?” Kalau saya yang pakai, bisa masuk, lepasnya digunting hehehe. Rasanya kalau ketemu cowok pakai skinny jeans begini, saya pengen kasih tau kalau dia punya risiko infertilitas meningkat ;D. Serius boys!!

Jangan terpengaruh sama saya ya. Ini kan pikiran saya aja. Kalau kamu merasa cantik dan ganteng pakai baju-baju yang saya sebut di atas, silakan kok dipakai. Yang penting kan pede…. Cheers

NB: Biar jelas saya lampirkan ya gambar-gambar ide orisinilnya dan silakan ketawa...;D

Jumat, 14 Januari 2011

How to respect your teachers

Hhm, lagi suka buat judul berawalan “How” gara-gara lagi nge-fans sama sitcom “How I met your mother’ ;D. Tapi posting saya yang ini ga ada kaitannya sama Ted Mosby n the gang itu,kok.

Ceritanya kurang lebih seminggu lalu, saya bertemu seorang guru SD saya, Pak Dadi Gunadi (is it his last name? kind of slip my mind). Waktu itu saya baru selesai praktek dan karena ndoro kakung terlambat menjemput, saya putuskan berjalan kaki saja lewat jalan pintas, syukur-syukur papasan di jalan. Nah, di depan sebuah warung rokok, seorang bapak setengah baya (setengah baya itu pasnya buat umur berapa sih?) mandangin saya terus. Uugh tentu saja jiwa seleb saya keluar,ini orang ngapain sih liat2 saya? Kemudian tiba-tiba saja wajah bapak itu familiar dengan saya. Ya, bapak itu guru saya waktu SD. OMG, he still remembered me, despite my body evolution (dinosaurus kali ah). Saya sempat tergagap sesaat karena mencoba mengingat nama beliau. Sepertinya beliau tahu kesulitan saya dan langsung mengenalkan dirinya, “Pak Dadi, Rin”. *Aduh, maaf ya pak, saya ga langsung ingat nama bapak, murid yang durhaka ya,pak?*

Beliau masih seperti sosok guru yang saya segani 29 tahun yang lalu (hihihi nah ketahuan deh tuanya saya), hanya beberapa kerutan dan uban jadi aksesoris di sana-sini, tapi selebihnya beliau masih seperti dulu. Amazingly, he also still recognized where I used to live, my sisters name and my parents. Saya sungguh terkejut karena beliau masih ingat semua itu. Padahal tentu saja beliau punya ribuan murid yang telah dididik. Tapi beliau mengingat siapa saya. Bahkan saat Idan dan ayahnya datang, beliau berkata kepada Idan seperti ini:”Mama Idan dulu murid Bapak yang paling pintar di kelas, tante-tantenya juga sama pintarnya. Kamu yang pintar ya, biar kayak mama.” Seingat saya, murid terpandai di kelas dulu bukan saya, tapi beliau mengatakan itu di depan anak saya, sungguh membuat saya tersanjung.

Saat saya katakan profesi saya sekarang, beliau senang sekali. Beliau bahkan bilang,”Kalau bapak sakit, boleh berobat ke kamu,ya?”. Hehehe, tentu saja boleh, Pak, tapi kalau yang berat-berat bukan kompetensi saya ya.

Hhm, saya terus menaiki tangga satu demi satu, sementara guru-guru SD saya tetaplah seorang guru. Mereka terus ada di dasar tangga itu, memperhatikan dan membimbing satu demi satu para muridnya naik semakin ke atas. Dan apa yang mereka punya? Tidak ada selain kebanggaan telah mendidik muridnya sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Dan apa yang telah kita berikan untuk mereka, yang terkadang namanya pun kita lupa L ? Tidak ada yang lebih layak selain rasa menghormati yang tinggi kepada mereka dan doa agar derajat mereka dinaikkan setinggi-tingginya di hadapan Allah SWT.

Gurulah pelita…

Penerang gelap gulita…

Jasamu tiada tara….

Kamis, 13 Januari 2011

HOW TO CHOOSE ELEMENTARY SCHOOL

Having a school-aged child nowadays is really making me suffer from a headache, specifically when he is ready to enter elementary school. How? Well, you know , a lot of stuffs to be concerned. Unlike those old days when the only qualification for you to join school was the ability to touch your ear from behind your head by hand (*bingung ga ngartiinnya?*).

Ah, kayaknya nggaya tenan sok ngomong bosone wong londo, lah wong nilai toefl saya cuma 583 (*pameeeer*). Pakai bahasa Endonesia aja ya, saya kan cinta bahasa Endonesia, secara saya orang Endonesia.

Lanjut ya, masuk SD sekarang jelas tidak sesederhana seperti jaman saya sekolah. Saat ini ada ujian masuk, ada psiko test, dll. Belum lagi pikiran jangka panjang terkait nanti bagaimana sekolah lanjutannya. Buat saya yang tinggal di Jakarta coret (baca: Bekasi), ini isu penting. Soalnya di tempat saya, belum ada SMP/SMA yang cukup representatif. Sistem rayonisasi memprioritaskan domisili sebagai syarat penting untuk masuk sekolah. Jadi, kecil kemungkinannya bila saya yang dari Bekasi ini menyekolahkan anak di Jakarta bila menyekolahkan anak di SD negeri di dekat rumah.

Alasan tersebut menjadi salah satu penyebab saya tidak memilih SD negeri untuk sekolah Idan. Alasan utamanya adalah saya tidak menyukai sistem pendidikan dasar yang ada saat ini di sekolah milik pemerintah. Sistem saat ini tidak menjadikan seorang anak berpikir kreatif, tidak membentuk karakter, dan tidak memacu anak untuk berkompetisi secara sehat. Yang terjadi adalah anak menjadi robot dan tidak berkembang sesuai potensinya. Ini menurut saya lho, tentu tidak bisa disamaratakan bagi semua sekolah dasar pemerintah. Bagaimana bisa membangun karakter seorang anak apabila satu kelas begitu padatnya?

Betul memang, pembangunan karakter dan pendidikan moral seorang anak tidak melulu tergantung oleh guru sekolah, tapi lebih penting adalah peran orangtua. Hanya rasanya sulit ya apabila kita menanamkan semua moral baik di rumah, namun di sekolah tidak bisa terwujudkan karena teman-temannya tidak memiliki dasar yang sama. Di sekolah dasar umum, anak datang dari keluarga berbagai strata ekonomi dan sosial (eh ga berlaku buat SD Besuki dan SD Argentina ya hihihi). Sering saya mendengar segerombolan bocah berseragam merah putih berbicara dengan bahasa yang kasar, kotor, kurang ajar, yang bahkan saya sendiri seumur-umur tidak pernah mengucapkannya. Bahkan saat mereka saya tegur, tidak tampak wajah bersalah, malah mereka mengejek saya. Kentara sekali tidak ada yang mengajari mereka tentang sopan santun. Peer-group seperti inikah yang kita inginkan untuk anak kita?

Peer group di usia sekolah merupakan pengaruh terbesar bagi kehidupan anak. Pada usia ini anak akan lebih percaya pada peer group-nya daripada orangtuanya. Sehingga penting untuk mencari peer group yang tepat.

Di sekolah swasta yang bermutu (*baca : mahal*), strata sosial ekonomi dari setiap siswanya rata-rata sama. Artinya yang punya uang-lah yang bisa masuk ke sana. Dan biasanya orangtuanya memiliki dasar pendidikan yang sama, sehingga sedikit banyak nilai-nilai yang ditanamkan di rumah juga serupa. Tapi ini seperti pedang bermata dua. Kenapa? Karena anak-anak di sekolah ini terbiasa hidup berlebih dengan fasilitas yang serba tersedia, maka mereka akan menjadi pribadi-pribadi yang manja dan materialistis, yang menggampangkan segala cara dengan uang. Apakah ini juga yang kita mau untuk anak kita?

Hhhh…mengelus dada nih saya? Tambah pusing jadinya. Ada gak ya sekolah yang bagus dengan kualitas pendidikan yang saya mau, tidak terlalu mahal, dengan murid-murid yang santun dan berakhlak ihsan? Ada yang bisa bantu saya??

Rabu, 12 Januari 2011

Keep The Faith

Ya, temans, Allah SWT itu Maha Mendengar
Ia mendengar semua doa
Dan Ia mengabulkannya

Mungkin tidak secepat yang kita inginkan
Mungkin tidak sesuai yang kita mau
Tapi Ia memberikan jalan
Agar kita mendapatkan kemudahan

Jadi, temans
Tetaplah berdoa dan meminta padaNya
Dengan segala kerendahan hati

Sehingga Ia akan terus mendengar doa kita
Dan memberikan jalan yang terbaik
Untuk semua kesulitan kita

So, dear friends
Keep smiling
Don't burst wasted tears

With all the faith you have
Be sure of yourselves
That we are all are going to make it through

We stick together
We love each other
We're certain that God are with us
Guiding and watching every steps of the way
And all we need is keeping the faith

To: Amanda Soebadi, Ayidilla Septarini, Daulika Yusna, Desy Dewi Saraswati, Ismi Citra Ismail, Matahari Harumdini, Laila Husaini, Sondang Zwita Sidabutar

Selasa, 21 Desember 2010

How To Choose A Good Pediatrician - Limited Patients Edition

Catatan ini saya buat karena melihat kebingungan teman-teman saya yang non-dokter dalam memilih seorang dokter anak yang baik. Berhubung saya hampir tidak pernah membawa anak saya ke seorang SpA, sebenarnya saya tidak punya pengalaman sebagai seorang ibu pasien(*catat:tidak termasuk ujian dengan mereka ya? Wah itu mah nightmare..hehehe*). Jadi ini tips dari saya sebagai seorang (calon) SpA berdasarkan pengalaman sehari-hari, ya... Catatan aja, karena hobi saya menulis bertele-tele ga penting gitu, maka posting akan saya buat beberapa edisi (deeuuh novel bersambung kali ah)

1. Limited patients are better
Siapa bilang dokter anak yang baik itu selalu ditandai dengan berjubelnya jumlah pasien? Dari sisi saya pribadi, semakin banyak pasiennya, sang dokter semakin tidak fokus. Bayangkan kalau dalam waktu praktek yang sempit (sekitar 2-4 jam), harus mendiagnosis ...katakanlah, 30-50 pasien? Pengalaman saya, di pasien no 10, biasanya saya sudah mulai lelah, baik lelah berbicara, berbasa-basi, membujuk pasien, dan yang paling bahaya, LELAH BERPIKIR! Bahayanya, risiko malpraktek akan meningkat. Saya juga akan mulai stres diburu-buru perawat yang mengingatkan pasien-pasien yang menunggu masih banyak. Akibatnya, saya akan malas melayani konsultasi, menjelaskan apa penyakit si anak, apa yang harus dikerjakan orangtua, bagaimana memakai obat-obatnya, mengapa saya resepkan obat tersebut. Dampak lebih lanjut adalah ketidakpuasan dari orangtua pasien, kesalahan penggunaan obat, kepanikan orangtua yang berlebih apabila belum ada perubahan kondisi anaknya, ujung-ujungnya adalah hilangnya kepercayaan orangtua terhadap dokternya. Lebih parah lagi kalau sampai ada kesalahan fatal yang berakibat kematian atau tuntutan hukum.
Lalu berapa banyak idealnya pasien seorang dokter? Tergantung masing-masing personal sih niatnya apa. Kalau mau cari uang, ya makin banyak makin baik kali ya? Ah tapi kan niat jadi dokter tidak murni didasarkan pada ekonomi semata kan? Niat menolong lebih banyak kok. Jadi sekitar 10-15 pasien per jam praktek antara 2-3 jam. Sehingga waktu konsultasi per pasien bisa cukup lama. Toh kalau rizki ga kemana kan? Bisa dari tempat lain, misalnya jualan kalung kayak saya atau jualan kue kayak Chyntia (hihihi ngelantur)
Dari sisi pasien sendiri, terlalu banyak pasien dari seorang dokter juga tentu tidak nyaman, bukan? Bayangkan anak anda harus menunggu sekian jam hanya untuk bertemu sang dokter 2-3 menit! Si anak lelah, mengantuk, rewel, belum lagi bila kondisi klinisnya tidak baik, seperti sedang demam, sakit kepala, muntah, diare....Duh, ga tega kan, bunda? Risiko lain dari lama menunggu adalah si anak akan terpapar oleh kuman/virus dari pasien lain yang sama-sama menunggu di ruang tunggu. Bisa-bisa yang tadinya cuma selesma aja, pulang-pulang kena cacar air. Bonus yang tidak menyenangkan kan?
Belum lagi ekspektasi orangtua untuk minta konsultasi tidak selalu terpenuhi, karena si dokter akan segera menulis resep, menyerahkannya dan berkata "Ada lagi yang mau ditanya?" sambil menyerahkan status pasien pada perawat. Ooh ooh...itu seperti usiran halus,kan? Mau nanya lebih lanjut, tapi kok ga enak? Mau langsung keluar,tapi kok belum jelas. Bingung kan? (*Ini pengalaman pribadi waktu antar mama saya ke seorang profesor neurolog top di negeri ini*)
Seorang guru (baca:konsultan) saya menerapkan sistem 'limited patient" ini di praktek sehari-harinya. Beliau hanya mau menerima 10 pasien per jam praktek dengan perjanjian. Jadi orangtua puas dan beliau juga cukup nyaman memeriksa pasien. Lalu apakah beliau kurang rizkinya? Ah tidak tuh, buktinya rumahnya cukup luas dan besar, sering liburan ke luar negeri juga (ah jadi inget nih, belum pernah ke luar negeri hihihi)
Kesimpulannya, banyaknya pasien akan mempengaruhi medical decisions seorang dokter.

Edisi selanjutnya tentang Waktu Konsultasi, yaa...disambung kapan2 soalnya diriku ngantuk ;P

Jumat, 12 November 2010

Shopping time at Pasar Pagi Mangga Dua and Asemka (part 2)

Cerita belanja-belanji yang kemarin belum selesai,nih. Yang ke Asemka-nya kan belum diceritakan. Kenal Asemka setahun yang lalu, waktu Wildan mau ulang tahun yang keempat. Ceritanya karena ada rizqi lebih, dirayakan dengan mengundang teman-teman kuliah dan anak-anaknya. Supaya ga mati gaya acaranya pakai pukul 'pinata'. Beli pinatanya di Asemka.

Nekat aja ke Asemka, padahal ga tau yang mana tempatnya. Naik taksi karena ga tau jalan.Oops, mahal ternyata, padahal aksesnya gampang. Ya udah pelajaran pertama adalah naik busway aja, dari RSCM naik sampai Mangga Dua, terus nyambung ke Kota, turun depan Museum Bank Mandiri, susurin aja samping jalan layang itu....taraaaa sampai deh. Cuma modal ongkos Rp 5500 ;p. Saya ga suka naik ojek sepeda, enakan jalan kaki sambil liat kiri kanan, walaupun panas.

Awalnya bingung, bahkan sampai sekarang juga masih ga yakin nama-nama tempat yang ada di situ. Sejauh ini udah tau yang namanya gedung Asemka, tapi belum tau yang namanya pasar pagi lama. Pokoknya kalau ke sana ya muter-muter aja, mulai dari bawah jalan layang, ke pertokoan kiri kanannya dan masuk ke gedung asemka-nya. Sedapat dan semenclok-nya hehehe. FYI gedung Asemka itu adanya tepat di depannya musola bawah jalan layang, kalau dari arah perempatan kota, sebelah kirinya.

Kalau ke sini sih biasanya urusan belanja goody bag. Wah, sampai pusing saking banyaknya pilihan. Lebih enak beli yang di dalam gedung, kayaknya pilihannya lebih bagus secara kualitas. Mau yang paket atau yang terpisah-pisah, terserah bisa pilih kok. Kalau untuk perlengkapan pestanya, saya biasanya beli di Toko Blessings yang ada di bawah jembatan. Kayaknya toko ini yang paling besar dan lengkap. Apa aja ada dan muraaaah banget. Beda harganya bisa 5 kali lipat kalau barang yang sama sudah masuk ke hipermarket. Sayang, mbak-mbak pelayannya suka jutek kalau yang beli ramai dan suka 'lempar-lempar' kewajiban melayani. Sampai saya pernah ikutan jadi judes saking sebelnya dicuekin. Pinata disini harganya sedikit lebih murah daripada beli online, tapi kalau ngitung2 ongkos taksi buat bawanya, mendingan beli online, terima beres. Kalau buat saya sekarang, MENDING BIKIN SENDIRI hehehe...secara saya sudah pernah sukses bikin pinata sendiri buat ultah Abram, anaknya Daulika. Sayang, beli mahal-mahal terus dirusak...hiks

Terus kalau ke sini pasti ga lupa beli alat-alat tulis, mulai dari pulpen, pensil dan krayon. Huaaah, harga krayon Titi 55 warna disini cuma 50rb lho, padahal di G*ant dan Gr*media aja 99rb. Halaaah, untungnya gede amat ya? Makanya agak-agak kalap nih kalau ke sini.

Toko manik-manik-lah sekarang yang bakal menjadi tujuan saya. Di daerah Asemka ini ada dua toko yang paling terkenal. Mutiara Indah dan Kirana. Awal saya cari toko ini ga ketemu juga setelah putar-putar dan tanya-tanya sana-sini. Akhirnya diniatin lagi pada kesempatan berikutnya HARUS ketemu. Letak keduanya di Jalan Pintu Selatan I (atau gang Ribal or Libar yak? hihihi agak lupa). Posisinya sebenarnya gampang banget dicari, saya aja yang o*n. Saya naij ojek sepeda minta diantar ke Pintu Selatan I, eh abang ojeknya juga ga ngerti, saya malah diantar ke Gedung Asemka, ongkosnya 4rb pula...Hualah tau gitu kan mending saya jalan kaki. Karena letak gangnya gampang banget dicari. Jadi kalau dari lampu merah Kota itu lurus terus ambil sisi kiri jembatan layang, ada deretan bank-bank, terus gang pertama belok kiri. Ya udah susuri aja tu jalan. Kalau bingung tanya tukang parkir. Yang akan nampak terlebih dulu adalah toko Kirana.

Kesan pertama...OMG, surga manik-manik. Duh, muraaaah dan cukup lengkap buat pemula seperti saya. Saya sih ga tau nama manik2 apa aja, pokoknya kalau lucu warna dan bentuknya , plus saya lagi kepengen buat sesuatu dengan ide yang sudah ada di kepala, ya saya beli. Tapi beneran deh...kuatkan iman kalau belanja di sini hihihi. Toko kedua adalah Mutiara Indah, nah toko ini ada dua lokasi. Yang pertama no 16B, khusus jualan bahan penunjang aksesoris, kayak rantai, paku, kaitan , dll. Yang kedua no 17B, khusus jualan manik dan batu. Toko kedua lebih luas. Pilihan maniknya sih lebih sedikit dibanding Kirana, tapi boleh beli ketengan kok buat manik2 yang didalam plastik. Sayangnya manik belimbing dari resin yang seperti agar-agar (yang saya sering dapat di Violetta ITC Kuningan) ga ada di sini, atau saya belum mencari dengan baik ya?

Duuh jadi pengen ke Asemka lagi nih...sayang isi rekening ga mengijinkan hehehe




Selasa, 09 November 2010

He turns five...









Kayaknya dimana-mana kalau anak ulang tahun, kenapa ibunya yang repot ya? Ya, karena saat si anak lahir, ibunya kan juga meretas nyawa (ga nyambung ya?). Contoh ibu yang jadi repot ya saya ini. Waktu Wildan mau ultah kelima, sebulan sebelumnya saya sudah repot pesan-pesan kue.Tadinya mau pesan di Coklatc**c lagi seperti tahun lalu, tapi kok ya rasa kuenya ga enak blas. Apalagi setelah terakhir nyicip kue ultahnya Nadine-nya Klara yang pesan dari situ juga, yaaakss ga enak banget. Akhirnya booking slot tanggal 30 yang udah dikonfirm dibatalkan. Saya kok lebih mementingkan rasa dibandingkan penampilan kuenya.



Setelah tanya sana-sini, keputusan terakhir adalah pesan kue di teman-teman sendiri yang sudah jelas rasa kuenya enak. Cake ultahnya pesan di teman SMP dulu, Ria. Cupcake buat goodybag-nya juga pesan di beliau. Kesannya rasa kuenya emang enaaaaaakkk banget, buttercream-nya ga eneg, rasa kuenya juga semriwing dan lembut banget. Sayangnya, Ria kurang canggih bikin dekorasi kuenya, jadi akhirnya yang udah sepakat pakai buttercream, diganti pakai edible image karena dia ga pede. Hhhmmm, padahal walaupun ga rapi juga, saya lebih senang pakai BC, soalnya edible juga ga kemakan, motongnya susah euy ;D


Isi goodybag yang lain kukis hiasnya tante Acid (mylittlekitchen-shop.blogspot.com) yang lucu banget. Rasanya juga ga mengecewakan. Yang jelas teman2 Wildan terkagum-kagum lihat kukisnya. Satu lagi, makaroni skotel buatan sendiri. Dasar amatiran, makaroninya berantakan, ga bisa padat. Kayaknya sih karena jumlah telurnya kurang banyak (dasar pelit..). Goodiebag-nya homemade semua kecuali susu kotak. Saya ga mau ada snack ga sehat. Walaupun konsekuensinya jadi mahal hiks..hiks.

Cenderamatanya kotak bekal gambar Pororo dan Pocoyo plus tempat minum plastik. Beli di Asemka kemarin itu. Selusin (paketan) 95IDR, jadi kira-kira 8,75IDR/paket. Soal keamanan, bismillah aja :(.

Selamat ulangtahun anak Ibu tersayang. Semoga Allah SWT selalu melindungimu, menjagamu, menerangi jalanmu, melapangkan rizkimu, meninggikan derajatmu.

Love, Ibu dan Ayah